7000 Keluarga di Magetan Krisis Air Bersih, Harus Tampung Air Setiap Hari untuk Masak dan Ternak

7000 Kepala Keluarga (KK) di dua kecamatan di Kabupaten Magetan, terkena krisis air bersih.

7000 Keluarga di Magetan Krisis Air Bersih, Harus Tampung Air Setiap Hari untuk Masak dan Ternak
SURYA.CO.ID/DONY PRASETYO
Ibu ibu warga Desa Trosono, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan antri air bersih droping dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Selasa (18/6/2019). 

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - 7000 Kepala Keluarga (KK) di dua kecamatan di Kabupaten Magetan, terkena krisis air bersih.

Sungai dan sumber air di wilayah kedua kecamatan itu sudah mengering. Akibatnya, warga harus mencari sumber air atau sumur dalam di desa lain yang jaraknya mencapai tiga kilometer.

Kedua kecamatan yang wilayahnya saat ini sudah dilanda kekeringan, yaitu Kecamatan Parang ada tiga desa, Desa Trosono, Sayutan dan Bungkuk. Sedang Kecamatan Karas, dua desa, yaitu Desa Karas dan Kuwon

"Untuk Desa Trosono, Kecamatan Parang kita pasang tiga tangki air fiber berkapasitas 2000 liter di tiga titik," kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magetan Fery Yoga Saputra kepada Surya, Selasa (18/6/2019).

Ada Wisatawan Tewas Tenggelam di Telaga Pasir Sarangan, Pemkab Magetan Baru Mau Dirikan Pos SAR

Musim Kemarau Buat Lahan Pertanian di Magetan Mengering, Ada 167 Hektar Puso, Kerugian Capai Rp 13 M

Dikatakan Fery, masing masing desa di Kecamatan Parang akan kita kirim sebanyak 13 kali/hari untuk mengisi tiga tangki fiber itu. Air sebanyak itu untuk keperluan memasak, dan ternak.

"13 kali kirim itu setiap kali kirim satu truk tangki berkapasitas 6000 liter. Air itu hanya untuk masak dan keperluan ternak, dan itu belum untuk mandi dan cuci,"kata Fery.

Desa Trosono, Parang, tambah Fery, ada sebanyak 4000 KK, dari warga sebanyak itu, sekitar 1400 KK kini sudah terdampak kekeringan.

"Musim kering tahun ini maju dari perkiraan misim kemarau sebelumnya. Tidak hanya menimbulkan krisis air, tapi juga rusaknya tanaman padi milik petani,"ujar Fery.

Diperkirakan kemarau tahun 2019 ini lebih panjang dari tahun tahun sebelumnya, dan baru memasuki musim penghujan diperkirakan sekitar bulan Oktober, ini sesuai ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kami sudah terima surat pemberitahuan dadi BMKG, tentang ramalan pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan. Disebutkan hasil ramalan BMKG musim penghujan diperkirakan akan turun Oktober," kata Fery Yogo Saputro.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved