Breaking News:

Mahasiswa Unusa Surabaya Ciptakan Tas Timbangan S-Bag, Bisa Ukur Jumlah Beban yang Masuk dalam Tas

Mahasiswa Unusa Surabaya Ciptakan Tas Timbangan S-Bag, Bisa Ukur Jumlah Beban yang Masuk dalam Tas.

Penulis: Sudarma Adi
Editor: Sudarma Adi
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
tas timbangan Scale Bag yang diciptakan mahasiswa Unusa 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Perlengkapan yang harus dibawa para siswa SD, SMP dan SMA seringkali terlalu berat bagi tubuh mereka.

Buku, alat tulis, laptop, hingga bekal makanan dan minuman harus masuk ke dalam tas.

Padahal kelebihan beban untuk jangka waktu lama bisa menyebabkan nyeri punggung, bahkan mengubah postur tubuh.

Terjunkan Para Dokter Muda, FK Unusa Surabaya Jalin Kerjasama dengan Pemkab Lamongan

Cara Gampang Turunkan Gula Darah dengan Cookies Beras Merah Coramer Buatan Mahasiswa Unusa

Unusa Gandeng Ribuan Ibu dan Anak Ikut Festival Seni Anak Se-Surabaya Lomba Gerak, Nyanyi dan Lukis

Ini yang mendasari mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menciptakan tas yang punya timbangan, sehingga tahu beban yang dibawa si anak.

“Berdasarkan penelitian yang dimuat sebuah jurnal di AS, beban maksimal yang boleh dibawa seseorang adalah 10 persen dari berat badan,” kata Fildzah Nur Masithoh Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Unusa yang menemukan tas timbangan yang diberi nama S-Bag atau Scale Bag.

Jika seorang siswa SD dengan berat badan 25 kg, maka sebaiknya hanya membawa tas dengan beban seberat 2,5 kg. Atau siswa SMA berbobot 45 kg, sebaiknya 4,5 kg.

Namun karena harus membawa laptop, buku, serta bekal makanan dan sebotol air minum, berat tas seorang siswa SMA seringkali lebih dari 4,5 kg.

Belum lagi kebanyakan tas didisain dengan bagian penyangga di pundak yang kecil, seringkali menimbulkan rasa  sakit jika beban berlebih dan dipakai dalam waktu lama.

Menurut Fildzah, dia dan tiga teman satu tim terinspirasi membuat S-Bag setelah melihat banyak siswa SD harus ke sekolah dengan tas yang sarat beban.

“Adik saya sendiri setiap hari ke sekolah bawaannya banyak banget. Kami yang melihat saja kasihan karena terlihat terlalu berat,” katanya.

Fildzah bersama Bima Risqi Kurniawan, Francy Devy Octaviona dan Ichlasul Amalia kemudian mengajukan PKM berjudul ‘S-Bag (Penimbang Tas Sekolah yang Bermanfaat’. Mereka ternyata lolos  menerima dana hibah dari Kemenristekdikti.

S-Bag sendiri sangat sederhana. Tas ransel dari kain cordura yang dilengkapi timbangan mini yang dibordir di bagian belakang atas. Kain cordura dipilih karena ringan namun kuat dan awet. Agar lebih nyaman dipergunakan, bagian pundak diperlebar dan diberi spon tebal.

Timbangan kemudian dipasang tali yang menyangga triplek di bagian dasar tas. Jika tas diisi beban, secara otomatis timbangan  bakal menunjukkan beban yang masuk ke dalamnya.

“Nah jika mengetahui bahwa isi tas sudah berlebih, siswa tinggal mengeluarkan beberapa bawaan. Tas tersebut bakal ergonomis atau nyaman dipakai.  Ke depan kami bakal terus mencari model tas yang kekinian agar S-Bag bisa lebih murah dan laris manis di pasaran,” katanya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved