Faisal Basri Bongkar Geliat Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres 2019, Sebut Makin Defisit
Faisal Basri Bongkar Geliat Ekonomi Indonesia Pasca Pilpres 2019, Sebut Makin Defisit Hingga Singgung Peran Pemerintah.
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Sudarma Adi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2019 mengalami pertumbuhan yang lamban.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar Ekonomi Nasional Faisal Basri saat menghadiri forum Economic Update di Spazio Tower Intiland Surabaya, Jumat (12/7/2019).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,7 persen dan hanya naik 0, 01 persen poin dibandingkan periode yang sama di tahun 2018.
• Bekraf Akan Terus Berkomitmen untuk Mengakselerasi Produk-Produk dari Pelaku Ekonomi Kreatif
• Pemanfaatan Fly Ash – Bottom Ash Sebagai Produk Industri Dalam Konsep Ekonomi Berkelanjutan
• Perbankan & BPR Torehkan Rekor Posistif Pertumbuhan Ekonomi Jatim, OJK Komitmen Kembangkan Investasi
Faisal Basri Pakar Ekonomi Nasional menjelaskan korelasi antara industri dalam negeri dan dampaknya pada penerimaan negara.
Kondisi industri dalam negeri yang melemah ditengarai memiliki dampak langsung pada penerimaan negara.
"Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN) 2019 hingga akhir Mei sudah mencatatkan defisit hingga Rp 127,5 triliun atau 0,79% dari produk domestik bruto (PDB)," kata dia, Jumat (13/6/2019) Malam.
Dalam acara yang bertajuk 'Geliat Ekonomi
Indonesia Pasca Pilpres 2019', Faisal Basri menjabarkan seputar geliat perekonomian Indonesia, utamanya setelah perhelatan Pilpres 2019 berakhir.
Menurutnya, kompleksitas ekspor impor memegang peranan penting dalam balancing neraca pembayaran.
Ia mengatakan, Indonesia tidak bisa lagi membeli barang dan jasa dari luar negeri lebih banyak dibanding menjual barang dan jasa ke luar negeri.
"Ketika sedang defisit negara kemudian hutang ke luar negeri. Nah itu harusnya nggak boleh," jelasnya.
Sektor yang turut mentumbang surplus dalam neraca nasional adalah pekerja Indonesia di luar negeri. Menurutnya TKI ini satu-satunya sektor positif dari beberapa komponen yang mempengaruhi neraca dalam beberapa waktu terakhir.
"Barang kita sudah defisit. Hanya TKI yang menyumbang surplus 24,5 persen," paparnya.
Di lain sisi, Faisal Basri juga turut mengkritisi kinerja pemerintah dalam pembangunan ekonomi selama kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi Faisal Basri mengatakan, Indonesia perlu memiliki keunggulan baru dalam industri manufsktur.
"Kalau hanya mengandalkan Industri garmen dan tekstil tidak bisa. Karena mereka akan lebih banyak lari ke Bangladesh, Pakistan, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja," jelasnya.
Lebih lanjut ia menyebutkan, kurangnya dorongan dari pemerintah menyebabkan perkembangan industri menjadi lamban. "Sehingga kita banyak kehilangan peluang," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/pakar-ekonomi-nasional-faisal-basri.jpg)