Kena Tuduhan Curi, Nenek Blitar Ini Melenggang Bawa Kayu Hutan Bekas Curian, Warga Minta Dilepaskan

Kena Tuduhan Curi, Nenek Blitar Ini Melenggang Bawa Kayu Hutan Bekas Curian, Warga Minta Dilepaskan.

Kena Tuduhan Curi, Nenek Blitar Ini Melenggang Bawa Kayu Hutan Bekas Curian, Warga Minta Dilepaskan
SURYA/IMAM TAUFIQ
ilustrasi kayu jati curian 

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Tak selamanya Perhutani itu memberlakukan hukum secara saklek kepada setiap orang yang diduga melakukan pencurian kayu hutan.

Namun, itu semua, dilihat dulu dari kondisinya, misalnya kayu yang diambil itu seperti apa dan siapa pelakunya.

Seperti yang dialami nenek Tm, usia 68 tahun asal Desa Kauloon, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan atau dugaan pencurian kayu hutan, yang diambil dari hutan Banaran, BKPH Lodoyo Timur, Jumat (12/7) siang.

Dinas Pendidikan Kota Blitar Usulkan Tambahan Dana Rp 2,6 Miliar untuk Rehabilitasi 26 Sekolah Dasar

Gagal Lelang Jadi Penyebab Besarnya Silpa di Kota Blitar

Pria di Blitar Curi Kotak Amal Masjid Pakai Modus Telpon Orang, Ditangkap saat Nunggu Bus Buat Kabur

Alasannya, karena kayu yang diambil nenek itu, bukan hasil dari menebang atau memotong sendiri, melainkan mengambil dari bekas curian seseorang, yang tergeletak di tengah hutan atau tepatnya di petak 51 A RPH Banaran.

"Ia sudah kami pulangkan tadi siang, setelah menandatangi pernyataan, kalau tidak akan mengulang lagi perbuatannya. Itu disaksikan perangkat desa dan kepala desa setempat," kata Sarman Wakil Adm Perhutani Blitar.

Menurutnya, kejadian itu bermula dari informasi masyarakat, bahwa ada orang membawa kayu dari dalam hutan.

Akhirnya, oleh petugas dicek dan ternyata pelakunya nenek-nenek tersebut. Ia membawa kayu, dengan cara digendong dengan kain jarit. Jumlah kayunya, 13 potong, yang berupa batangan atau masing-masing panjangnya 1 meter.

Mendapati nenek-nenek sedang membawa kayu, petugas menanyainya. Katanya, itu kayu yang diambil di tengah hutan, dengan kondisi tergeletak di TKP. Itu akan dipakai kayu bakar.

Untuk membawanya pulang, nenek itu mengendongnya dengan berjalan kaki sepanjang 3 km. Sebab, jarak TKP dengan rumahnya sepanjang itu.

"Kayu itu sudah dibawa pulang dan sebagian sudah disimpan di pekarangan belakang rumahnya. Meski pengakuannya mau dipakai kayu bakar, namun karena itu kayu hutan, ya tak boleh begitu saja dibawa pulang," ujarnya.

Pengakuannya, menurut Sarman, kayu itu diambil dari petak 51 A, yang tak lain bekas kayu curian seseorang. Mungkin, oleh pelakunya ditinggalkan begitu saja atau tak dibawa pergi karena merupakan kayu rempesan atau tak laku mahal jika dijual meski kayu jati.

Melihat ada kayu tergeletak dan dianggap tak bertuan, nenek itu mengambilnya, buat kayu bakar. Namun, karena itu kayu hutan, petugas tetap memprosesnya. Akhirnya, nenek itu dibawa ke rumah perangkat desa, untuk dimintai pengakuannya.

"Atas permintaan warga dan perangkat desa, bahwa nenek itu harus dilepaskan karena dijamin bukan pencuri, kami menurutinya.

Namun demikian, ia harus membuat pernyataan, bahwa tak akan mengulanginya lagi, karena yang diambil itu kayu hutan," ujarnya.

Selain itu, pertimbangan lainnya, papar Sarman, nenek itu sudah tua dan hidup sendirian. "Sehingga kami mengutamakan kemanusian, dan kami menuruti keinginan warga, untuk dibebaskan. Yang penting, ia tak mengulangi perbuatannya lagi," pungkasnya.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved