Dhimas Anugrah Politisi PSI : Toleransi di Indonesia Pasca Pertemuan Jokowi dan Prabowo
Menurutnya, pasca pertemuan Jokowi dengan Prabowo menjadi angin segar bagi bangsa yang sempat terpecah pilihannya di Pilpres 2019.
Penulis: Aqwamit Torik | Editor: Yoni Iskandar
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aqwamit Torik
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Angka intoleransi atau ketidaktoleransian yang cukup tinggi di Indonesia membuat kekhawatiran tersendiri bagi sebagian besar warga Indonesia. Terlebih di Pilpres 2019 yang sempat memecah keberagaman umat beragama.
Pertemuan antara dua elit yang bertarung di Pilpres 2019 diharapkan menjadi asa untuk warga Indonesia menjalin persatuan dalam keberagaman.
Politisi muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dhimas Anugrah melihat, toleransi di Indonesia merupakan hal yang sangat urgen saat ini, karena bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, ras, maka yang bisa merekatkan anak bangsa adalah toleransi.
Menurutnya, pasca pertemuan Jokowi dengan Prabowo menjadi angin segar bagi bangsa yang sempat terpecah pilihannya di Pilpres 2019.
• Pelecehan Seks Dirut Maskapai Ternama Diungkap Pramugari, Tolak Ajakan Tidur hingga Tak Bisa Terbang
• Diduga Telah Cabuli Anak Tiri, Pria Asal Blimbing Malang ini Harus Mendekam di Penjara
• Terus Disindir Lawan, Hotman Sebut Kasus ‘Bau Ikan Asin’ Tak Lagi Fokus, Cincin Rp 8 M Jadi Taruhan
"Pertemuan Presiden Jokowi dan Pak Prabowo titik awal rekonsiliasi dari sebuah bangsa yang hampir terpecah karena Pilpres. Pertemuan ini sangat penting bagi rekonsiliasi bangsa, Pak Jokowi yang didukung mayoritas nasionalis dan Pak Prabowo didukung kaum religius, maka akan jadi pertemuan yang sangat bersejarah," imbuh pianis yang namanya masuk di bursa Pilwali Surabaya 2020 tersebut.
Ia juga menyebutkan, gaya hidup Pancasila juga harus terus dipelihara di Indonesia.
"Jangan lupa bahwa bangsa kita sudah hidup dalam nafas Pancasila, jauh sebelum nama Pancasila itu sendiri digali dan ditemukan oleh Bung Karno. Jadi gaya hidup Pancasila harus kita pelihara, jangan biarkan pihak manapun merusaknya," pungkas pria yang studi di Oxford, Inggris tersebut.
Sementara itu, Aan Anshori atau yang akrab disapa Gus Aan menyebutkan, sampai sekarang angka intoleransi semakin tinggi, menurutnya, sekitar 50 persen pelajar muslim mengaku tak mau berteman dengan warga non muslim, karena didogma agar tidak usah berteman dengan selain agamanya.
Menurutnya, nilai-nilai Pancasila bisa jadi penyeimbang keberagaman jika berbarengan dengan nilai Islam.
"Memastikan perjalanan antara pancasila dan Islam bisa berseiring, selain itu bagaimana mengimplementasikan keberagaman agama, dan para elit Islam harus lebih mengedepankan toleransi," jelas Gus Aan kepada TribunJatim.com, Selasa (16/7/2019).
Gus Aan menjelaskan, pasca Pilpres 2019 ia mengharapkan pihak-pihak elit agama seperti MUI, bisa membuat satu fatwa toleransi, demi keberlangsungan Bhinneka Tunggal Ika.
Selain itu, kebijakan juga tergantung kepada kepemimpinan Jokowi di periode kedua ini. Gus Aan Anshori melihat toleransi dan keberagaman akan terus berlangsung jika presiden Jokowi ke depan tak salah pilih Menteri dalam kabinetnya.
"Sangat tergantung oleh kebijakan Presiden Jokowi, dalam penentuan Menteri Agama, Menteri Ristekdikti dan Menteri Pendidikan," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/jokowi-dan-prabowo-bertemu-di-stasiun-mrt-lebak-bulus.jpg)