Manfaatkan Kain Perca Batik, Fransiska Sri Setyowati Adakan Workshop Membuat Kerajinan Mozaik
Bertempat di Oval Atrium Ciputra World Surabaya (CWS) Mall, Fransiska Sri Setyowati mengadakan workshop membuat kerajinan mozaic kain perca batik.
Penulis: Hefty Suud | Editor: Melia Luthfi Husnika
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hefty's Suud
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bertempat di Oval Atrium Ciputra World Surabaya (CWS) Mall, Fransiska Sri Setyowati mengadakan workshop membuat kerajinan mozaic berbahan kain perca batik, Kamis (25/7/2019).
"Sekarang batik kan lagi trend ya, otomatis kain sisa fashion batik juga banyak. Nah daripada itu dibuang, saya menjadikannya sebagai bahan kerajinan," ujar Fransiska.
Idenya menjadikan perca batik sebagai bahan kerajinan itu, dikatakannya datang saat ia melihat anak-anak autis bermain bongkar pasang.
• Desainer Surabaya Yeny Ries Luncurkan Busana Ready To Wear Ala Korea yang Sesuai Orang Indonesia
Pasalnya, Fransiska adalah seorang guru musik. Tempat ia mengajar, juga merupakan sekolah musik yang menerima anak berkebutuhan khusus.
"Saat mengajar, saya melihat anak-anak autism itu pada hebat bermain puzzle. Nah daripada sekadar bermain, saya kepikiran, kenapa nggak biajari bikin mozaik sekalian. Jadi sambil bermain, mereka menghasilkan sesuatu yang bisa jadi hiasan dinding, atau kartu ucapan mozaik kan bagus," paparnya.
Dari situ, tiga bulan belakangan ia belajar membuat mozaik berbahan kain perca dan mengajarkannya kepada murid-muridnya.
Hari ini, Kamis (25/7/2019) ia mengajarkan membuat kerajinan mozaik berbahan perca batik kepada 35 peserta berusia mulai dari 17 tahun.
• Tampil Trendy dengan Fashion Item Bermanfaat ala Desainer Yeny Ries, Ganti Sabuk dengan Bumb Bag
Beberapa peserta, juga merupakan anak berkebutuhan khusus yang datang dari IC School Surabaya.
"Boleh dilihat, bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus ini bisa mengikuti materi mozaik ini dengan baik. Ada salah satu peserta, ia merupakan anak downsyndrome, tapi mengerjakannya lebih rapi dan cepat dari peserta lainnya," papar Fransiska.
Setiap anak, imbuhnya, memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengerjakan kerajinan memotong dan menempel kain sesuai pola gambar itu.
"Gampang, sama sekali tidak susah," ujar Christine Halim (17), salah satu perserta berkebutuhan khusus.
Dalam kegiatan tersebut, ia membuat mozaik dengan pola gambar lumba-lumba.
Peserta lainnya, Zahra Syafira (17), mengatakan kerjainan membuat mozaik dari perca batik itu susah, susah, gampang. Susahnya karena karus memotong kain menjadi kecil-kecil dan harus sesuai untuk mengisi pola gambar.
"Gampangnya kalau sudah tinggal menempel," tukas Zahra dari SMA Dharma Wanita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/sejumlah-peserta-menyusun-kain-percah-menjadi-sebuah-gambar.jpg)