Tujuh Perusahaan Rokok Terkenal Akan Membeli 17.800 Ton Tembakau di Kabupaten Pamekasan Musim Ini

Sebanyak tujuh perusahaan rokok memastikan akan membeli tembakau hasil petani di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur

Tujuh Perusahaan Rokok Terkenal Akan Membeli 17.800 Ton Tembakau di Kabupaten Pamekasan Musim Ini
Tribun Jogja/Angga Purnama
Ilustrasi Tembakau - Sebanyak tujuh perusahaan rokok memastikan akan membeli tembakau hasil petani di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada musim tanam tembakau tahun ini. 

TRIBUNJATIM.COM, PAMEKASAN - Sebanyak tujuh perusahaan rokok memastikan akan membeli tembakau hasil petani di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada musim tanam tembakau tahun ini.

“Kurang lebih ada tujuh pabrikan rokok yang akan melakukan pembelian tembakau milik petani tembakau Pamekasan,” kata Imam Hidajad Kepala Bidang (Kabid) Pengawasan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pamekasan, Sabtu (3/8/2019).

Ketujuh perusahaan rokok itu masing-masing PT Gudang Garam, Djarum, Sampoerna, PT Bentoel, PT Sukun, PT Nojorono dan PT Wismilak.

Pemilihan Putra-Putri Batik Pamekasan, Alat Promosi Batik sebagai Identitas Budaya Berbasis Ekonomi

Menurutnya, ketujuh perusahaan yang akan menyerap hasil panen tembakau petani Pamekasan sebanyak 17.800 ton.

“PT Gudang Garam akan membeli tembakau Pamekasan sebanyak 5.000 ton, PT Bentoel 1.500 ton, PT Djarum 9.000 ton, PT Sadhana Arif Nusa/HM Sampoerna (kemitraan) 400 ton, PT Nojorono 800 ton, PT Sukun 600 ton dan PT Wismilak sebanyak 500 ton. Jumlah total keseluruhan 17.800 ton,” beberapa.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan telah menetapkan Break Even Point (BEP) tembakau 2019 sebesar Rp 42.600 per kilo gram.

Dan penetapan tersebut sudah disepakati dalam acara sosialisasi dengan pihak terkait seperti pabrikan, OPD, dan para kelompok tani.

Diduga Idap Hipertensi, Guru SMKN Ditemukan Tewas Tertelungkup di Ruang Tamu Rumahnya di Pamekasan

Namun demikian Imam menyampaikan bahwa harga tembakau bisa saja diatas dan bisa saja dibawah BEP yang telah ditetapkan pemerintah.

“Itu bisa saja terjadi karena harga tembakau itu diukur dari kualitasnya," ucapnya.

"Jadi, kalau cuacanya bagus, maka bisa dipastikan tembakaunya juga bagus dan harganya akan tinggi, namun sebaliknya jika cuaca tidak bersahabat, maka kualitas tembakau bisa jelek dan harganya pun turun,” tandasnya.

Penulis: Kuswanto Ferdian
Editor: Melia Luthfi Husnika
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved