Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Serunya Warga Ikut Ritual Tiban Blitar, Minta Hujan Lewat Tanding Adu Tangkas Cambuk Selama 20 Hari

Serunya Warga Ikut Ritual Tiban Blitar, Minta Hujan Lewat Tanding Adu Tangkas Cambuk Selama 20 Hari.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Sudarma Adi
SURYA/IMAM TAUFIQ
Rohman (44), saat bertarung dengan Siswoko (memakai helm) pada saat Acara Ritual Tiban di kecamatan Kanigoro yaitu ritual meminta hujan yang selalu dilakukan oleh warga setiap tahunnya 

Serunya Warga Ikut Ritual Tiban Blitar, Minta Hujan Lewat Tanding Adu Tangkas Cambuk Selama 20 Hari

TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Sudah jadi tradisi tiap tahun, terutama pada musim kemarau panjang, seperti saat ini, sebagian warga, terutama di Kecamatan Kanigoro, melakukan ritual tiban.

Yakni, ritual mendatangkan hujan, dengan cara adu ketangkasan menahan pukulan cambuk.

Aturan mainnya, mereka saling tantang, dengan naik ke atas panggung untuk beradu kekuatan. Yakni, keduanya bergantian menahan pukulan cambuk, yang terbuat dari lidi yang sudah dianyam. Masing-masing peserta, mendapat giliran memukul tiga kali.

Peringati Hari Rabies Dunia, Sejumlah Kucing di Kota Blitar Dikebiri

Setelah Orasi, Mahasiswa PMII Blitar dan Polisi Gelar Salat Gaib untuk Randi

Mahasiswa Blitar Kembali Gelar Aksi di Depan Gedung DPRD, Polisi Terjunkan Pasukan Asmaul Husna

Dan, lawannya tak boleh melawan atau membalas sebelum mendapat giliran. Ia hanya boleh menangkis dengan cambuk serupa.

Tak jarang, para peserta ritual tiban itu mengalami luka akibat kulitnya terkelupas. Namun demikian, mereka tak boleh emosi apalagi dendam karena acara itu selain ritual buat menurunkan hujan juga hanya adu ketangkasan.

Ritual tiban itu merupakan ritual minta hujan yang sudah berlangsung lama di Kabupaten Blitar, khususnya di Kecamatan Kanigoro.

Soal tempatnya, itu bisa berpindah-pindah. Di antaranya, pernah berlangsung di Desa Bangle, dan Desa Papungan. Namun, Senin (30/9) siang, ritual tiban itu berlangsung di Dusun Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro.

Tentunya, acara itu berlangsung di tempat terbuka dan berlangsung siang hari di saat panas menyengat.

Kebetulan siang kemarin, acara itu berlangsung di lahan kosong, yang berada di samping rumah Sukadi (46), warga dusun setempat.

Tak pelak, acara itu sekaligus jadi tontonan warga. Bahkan, sepanjang jalan perkampungan, yang menuju ke arena ritual itu, banyak dipenuhi para pedagang, yang berjualan aneka makanan. Tentunya, itu bisa mendatangkan rejeki bagi ibu-ibu yang berjualan.

Seperti biasanya, baik penontonnya maupun pesertanya berasal dari berbagai desa, kecamatan, bahkan dari luar kabupaten. Acara itu dimulai pukul 14.00 WIB, dengan ditandai alunan musik jaranan, yang para pemukulnya dari warga setempat.

Setelah itu, pemandu acara atau wasitnya, Suprapto (45) dan Sujiono (55), keduanya warga dusun setempat naik atas panggung.

Di atas panggung yang terbuat dari bambu dengan ukuran 8x8 m2 dan tinggi 4 meter itu, kedua wasit itu memutar-mutar cambuk, yang terbuat dari lidi yang dianyam. Sambil memutar-mutar cambuk di atas kepalanya dan mengikuti irama gamelan atau musik jaranan, mereka mempersilakan penantang naik ke atas panggung.

"Ayo, acaranya sudah dimulai dan dibuka, siapa yang paling jantan, mari naik duluan," rayu Sujiono kepada peserta yang stand by di bawah panggung.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved