FGD Hilirisasi Penelitian dan Pengembangan Produk Berbasis Kefarmasian
Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) serta Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM sebagai pengelola STP UGM menggelar Focus Group Discuccion
Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
"Langkah pertama yang harus diambil adalah membuat MOU antara IAI dengan STP UGM,’’ ungkap Nurul Fallah. IAI dengan jaringan yang amat luas,baik di industri, distribusi maupun pelayanan memiliki begitu banyak ahli di bidangnya masing-masing.
Dalam sambutannya, Dedy menegaskan, Kemenristekdikti mendorong STP untuk melibatkan pemerintah daerah setempat. Keberadaan STP,merupakan upaya untuk menembusmimpi meningkatkan ekonomi melalui UKM berbasis teknologi.
Pada kesempatan itu, Pranama menuturkan, Sleman merupakan kabupaten yang memiliki bonus demografi lansia di tahun 2035 mendatang, sehingga pemeliharaan kesehatan merupakan salah satu hal yang menjadi peratian besar pemda Sleman. Dalam perkembangannya prevalensi penyakit tidak menular di Kabupaten Sleman meningkat tajam. Hal ini memerlukan penanganan yang serius.
"Oleh karena itu, bimbingan teknis yang diberikan kepada para petani hari ini akan sangat membantu warga Sleman,’’ ungkapnya.
Di kesempatan yang sama,Edy Sri Harnanto mengungkapkan selama ini produk biofarmaka di Sleman belum dilirik pasar. Karena itu selama ini petani menanam tanaman biofarmaka hanya dalam skala kecil.
"Petani akan menanam, bila memang pasarnya ada. Karena itu kami membutuhkan informasi,kira-kira biofarmaka yang mana dan berapa banyak dibutukan. Dari sana kami akan mengkondisikan, agar para petani dapat memenuhi kebutuhan STP UGM,’’ ungkap Edy.
Dalam paparannya mengenai Kualifikasi Bahan Baku Industri,,Eva Retnowulan menyampaikan, setidaknya ada 120 jenis tanaman yang dibutuhkan dalam pembuatan obat tradisional. Proses pemyiapan bahan baku sebelum dikirimkan di industri sangat penting dilakukan.
Sementara Sri Rahayoe menyampaikan materi Cara Pengolaan Pasca Panen yang efektif ,dan Djoko Santosa dengan materi Standarisasi Bahan Baku Obat Untuk Biofarmaka.
• Ikatan Apoteker Indonesia Raih Rekor MURI Edukasi Pengenalan Obat Kepada Siswa SD Terbanyak
• Formasi CPNS 2019 Sumenep Tak Sesuai yang Diajukan, Hanya Dijatah 290, Pendidikan Paling Banyak
Selain di Yogjakarta, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dengan didukung oleh Subdit Organisasi Profesi, Direktorat Kawasan Sains & Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya Kemenristekdikti, juga mengadakan bimbingan teknis Pengelolaan Pasca Panen Produk Biofarmaka kepada petani binaan STP UGM. Acara yang berlangsung, Selasa (15/10) di gedung STPUGM, Purwomartani, Sleman itu diikuti oleh 25 petani.
Dalam kesempatan kali ini, ada tiga narasumber yang dihadirkan, yaitu Dra Eva Retnowulan Suwito, Apt, praktisi industri jamu yang juga anggota Himastra (Himpunan Seminat Obat Tradisional), Dr Sri Rahajoe,STP,MP, dosen Fakultas Pertanian UGM, serta Dr Djoko Santosa,S.Si, M.Si dosen Biologi Farmasi UGM.
Acara yang dibuka oleh Dedy Saputra,SE, S.Sos, M.Pub.Pol ini dihadiri oleh Sekjen PP IAI, Noffendri Roestam,S.Si, Apt, Drs Pranama,Msi,Kabid Penelitian, Pengembangan dan Pengendalian, Bappeda Sleman, Edy Sri Harnanto, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Sleman.,
Dalam sambutannya, Dedy menegaskan, Kemenristekdikti mendorong STP untuk melibatkan pemerintah daerah setempat. Keberadaan STP,merupakan upaya untuk menembusmimpi meningkatkan ekonomi melalui UKM berbasis teknologi.
Pada kesempatan itu, Pranama menuturkan, Sleman merupakan kabupaten yang memiliki bonus demografi lansia di tahun 2035 mendatang, sehingga pemeliharaan kesehatan merupakan salah satu hal yang menjadi peratian besar pemda Sleman.
Dalam perkembangannya prevalensi penyakit tidak menular di Kabupaten Sleman meningkat tajam. Hal ini memerlukan penanganan yang serius.
"Oleh karena itu, bimbingan teknis yang diberikan kepada para petani hari ini akan sangat membantu warga Sleman,: jelasnya.
Di kesempatan yang sama,Edy Sri Harnanto mengungkapkan selama ini produk biofarmaka di Sleman belum dilirik pasar. Karena itu selama ini petani menanam tanaman biofarmaka hanya dalam skala kecil.
"Petani akan menanam, bila memang pasarnya ada. Karena itu kami membutuhkan informasi,kira-kira biofarmaka yang mana dan berapa banyak dibutukan. Dari sana kami akan mengkondisikan, agar para petani dapat memenuhi kebutuhan STP UGM," katanya.
Dalam paparannya mengenai Kualifikasi Bahan Baku Industri,,Eva Retnowulan menyampaikan, setidaknya ada 120 jenis tanaman yang dibutuhkan dalam pembuatan obat tradisional. Proses pemyiapan bahan baku sebelum dikirimkan di industri sangat penting dilakukan.
Sementara Sri Rahayoe menyampaikan materi Cara Pengolaan Pasca Panen yang efektif ,dan Djoko Santosa dengan materi Standarisasi Bahan Baku Obat Untuk Biofarmaka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/berita-surabaya-ikatan-apoteker-indonesia-gelar-diskusi-denga-kemenristekdikti-di-yogja.jpg)