Mitra Go-Car Ancam Mogok, Guru Besar ITS: Mobilitas Konsumen Dapat Terganggu

Rencana mogok massal yang akan dilakukan oleh para mitra Go-car di Mojokerto, Jawa Timur dianggap wajar, namun akan mengganggu kepentingan konsumen.

Mitra Go-Car Ancam Mogok, Guru Besar ITS: Mobilitas Konsumen Dapat Terganggu
(Surya/Rahadian bagus)
Ratusan driver Go-Car menggelar demo di depan kantor perwakilan Gojek. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Rencana mogok massal yang akan dilakukan oleh para mitra Go-car di Mojokerto, Jawa Timur dianggap wajar, namun akan mengganggu kepentingan konsumen.

Hal itu disampaikan langsung oleh Prof. Daniel M Rosyid, Guru Besar Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.

“Itu harus dihormati, karena bisnis tak boleh menguntungkan hanya satu pihak saja. Akan tetapi, para mitra juga harus memikirkan kepentingan konsumen,” katanya.

Konsumen, kata Daniel, akan menjadi pihak yang paling dirugikan dari adanya friksi terkait penyesuaian insentif.

“Pertama, konsumen akan terganggu mobilitasnya karena harus menunggu order lebih lama. Kedua, konsumen yang beralih keangkutan konvensional akan menghabiskan biaya yang lebih mahal,” ucapnya.

Daniel menyatakan, penyesuaian tarif oleh perusahaan merupakan konsekuensi dari adanya permenhub yang ingin membuat ekosistem bisnis yang kompetitif dan berkelanjutan.

“Konsumen dan mitra mungkin akan diuntungkan dengan bonus atau “pembakaran uang”, tapi berapa lama bisnis tersebut akan terus bekesinambungan,” ujarnya.

“Ketika bisnis tak berkelanjutan yang terancam yang akan merugi bukan hanya perusahaan, melainkan mitra juga itu sendiri,” sambungnya.

Pengakuan Teman SMP, Terduga Teroris Bom Medan Ditangkap Densus 88, Lama Tak Jumpa Ada yang Berubah

Kasus Asrama Mahasiswa Papua, Kuasa Hukum YouTuber Andria Bakal Ajukan Penangguhan Penahanan

 Bagi Daniel, penyesuaian tarif ini dapat dikatakan sebuah tantangan bagi perusahaan dan mitra.

“Kalau perusahaan dan mitra tak tergantung terus pada “pembakaran uang”, ekosistemnya akan bagus. Pendapatan perusahaan mitra akan stabil dan berkelanjutan, itu bagus buat perekonomian pribadi dan nasional,” ujarnya.

 Oleh sebab tiu, kata Daniel, cara yang lebih arif untuk menyelesaikan masalah penyesuaian insentif adalah duduk bersama antara perusahaan dan mitra.

“Ini cara yang paling ampuh dan tak merugikan siapapun,” pungkasnya.

Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved