Nasib Malang Paguh Orangutan Diberondong 24 Peluru Sampai Buta Matanya di Kebun Sawit Aceh Selatan
Paguh, orangutan (Pongo abelii) jantan ditemukan dalam keadaan buta di Aceh Selatan. Di tubuhnya ditemukan 24 peluru senapan angin.
TRIBUNJATIM.COM, MEDAN — Paguh, orangutan (Pongo abelii) dewasa ditemukan berjalan gontai di sebuah perkebunan kelapa sawit di Aceh Selatan.
Gerak gerik orangutan jantan ini terlihat dalam video yang diperlihatkan oleh Panut Hadisiswoyo, pendiri Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Kamis (28/11/2019).
Di video itu terlihat tangan Paguh menggapai-gapai ke atas, seolah ingin menjangkau dahan pohon untuk memanjat.
Tak lama kemudian, badan Paguh menabrak batang kelapa sawit.
• Polda Kalteng Tangkap Pencari Kayu dengan Tuduhan Membunuh Orangutan Baen yang Bikin Heboh Dunia
Panut mengatakan, melihat gerak-gerik itu, tim The Human-Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) bersama tim dari BKSDA Aceh menduga Paguh buta.
Paguh pun dievakuasi dari kebun kelapa sawit di Desa Gampong Teungoh, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan, pada Rabu (20/11/2019).
"Memang kondisinya sudah berada di tanah, kondisinya seperti tidak bisa melihat dan berada di dalam perkebunan kelapa sawit masyarakat," katanya.
Menurut dia, orangutan tersebut dalam kondisi terdesak dan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup.
Saat menemukannya, tim mencurigai orangutan tersebut tidak bisa melihat atau buta.
Dari situ kemudian tim membiusnya. "Tim mencurigai matanya mengalami kebutaan akibat kontraksi dengan benda tajam dan juga infeksi akibat benda tajam atau peluru (senapan angin)," katanya.
Dugaan adanya peluru senapan angin, kata dia, sudah terkonfirmasi dari pihak Sumateran Orangutan Conservation Programme (SOCP).
Diketahui, SOCP adalah pengelola Pusat Karantina Orangutan di Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Deli Serdang.
"Di dalam tubuh orangutan itu ada 24 peluru senapan angin di mana dari 24 peluru itu, 16 berada di kepala, termasuk di bagian wajah orangutan," katanya.
Panut menjelaskan, lokasi tersebut berdekatan dengan Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang menjadi habitat orangutan sumatera di wilayah Aceh Selatan.
Kawasan tersebut, kata dia, menjadi habitat lebih dari 1.300 orangutan sumatera.
"Ada beberapa tempat yang terjadi deforestasi, pembukaan lahan perkebunan sehingga beberapa orangutan terdesak harus keluar dari habitat alaminya, sehingga tersesat di dalam kebun," katanya.
Selanjutnya, terjadilah banyak interaksi dengan manusia.
Menurut dia, istilah konflik sedikit radikal karena sebenarnya orangutan kehilangan habitatnya mendapatkan interaksi yang sangat frontal.
"Sehingga ada beberapa masyarakat yang melihatnya sebagai hama dan satwa menakutkan, tidak ada toleransi," katanya.
Dijelaskannya, setelah dievakuasi dan diperiksa, orangutan tersebut dibawa ke Pusat Karantina Orangutan Batu Mbelin untuk melakukan proses penyembuhan.
Menurut dia, kondisi orangutan itu tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan atau dikembalikan ke habitat aslinya di SM Rawa Singkil.
"Tapi saya tidak yakin matanya sudah buta dan bisa pulih kembali," katanya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kisah Tragis Orangutan: 24 Peluru di Badan dan Coba Bertahan Hidup dengan Kebutaan