Uniknya Pemakaman di Desa Penglipuran Bali, Berbeda dengan Desa Adat Lainnya

Desa Wisata Penglipuran, di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Pulau Bali terkenal dengan kebersihannya.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Yoni Iskandar
sofyan arif candra /Tribunjatim
Desa Adat Penglipuran Mempunyai Tradisi Pemakaman yang Berbeda Dibandingkan dengan Desa-desa Adat di Bali Lainnya 

 Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Desa Wisata Penglipuran, di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Pulau Bali terkenal dengan kebersihannya.

Bahkan Desa Penglipuran masuk ke dalam daftar desa terbersih di dunia, jauh dari bangunan bertingkat, polusi udara, dan lalu-lalang mobil di jalanan.

Selain terkenal dengan kebersihannya, desa yang dihuni oleh 1012 penduduk ini ternyata mempunyai tradisi pemakaman yang berbeda dibandingkan dengan desa-desa adat di Bali lainnya.

Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng mengungkapkan yang pertama makam di Desa Penglipuran dibagi menjadi tiga kelompok.

Yang pertama adalah makam untuk mereka yang meninggal karena kecelakaan, bunuh diri, ataupun sakit keras.

"Yang kedua adalah kuburan bagi mereka mulai bayi yang baru lahir hingga mereka yang belum menikah dan yang ketiga adalah kuburan umum," ucap Moneng, Senin (27/1/2020).

Selain pengelompokan jenis kuburan, cara penguburan mayat di Desa Penglipuran juga berbeda dengan desa adat lainnya.

"Kalau yg perempuan menengadah, karena perempuan itu lambang ibu Pertiwi sehingga menguburnya harus menghadap ke atas atau ke angkasa," ucap Moneng.

Sedangkan mayat laki-laki tengkurap karena laki-laki melambangkan bapak angkasa sehingga saat menguburkan harus menghadap ke bawah atau ke pertiwi.

PKB Mulai Survei 13 Nama Bacawawali Pendamping Machfud Arifin, Badrut Tamam Siap jadi Pendamping

Mahasiswi Asal Sidoarjo ini Terbebas dari Virus Corona Ketika Menimba Ilmu di Wuhan China

Jebolan Indonesian Idol Regina Ivanova Setor Rp 13,5 Juta ke PT Kam and Kam Lewat Aplikasi MeMiles

"Ini berbeda dengan lainnya, karena biasanya semua menengadah," lanjutnya.

Selain itu dalam prosesi ngaben, masyarakat desa Penglipuran tidak membakar mayat dan tidak menggunakan 'Bade'.

"Kalau meninggal, kalau di aben ya dikubur tidak ada dibongkar lagi untuk dibakar. Kalau tempat lain kan diaben dulu, dibongkar lalu dibakar," ucap Moneng.

"Kalau di tempat kami cukup dikubur lalu sudah selesai. Penggantinya yang dibakar ada orang-orangan yang namanya gesi-gesi dari alang-alang untuk dibakar," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved