Virus Corona di Indonesia
Bagaimana Bisa Pasien Terinfeksi Virus Corona Tak Tunjukkan Gejala? Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui
Salah satu faktor yang memengaruhi kecepatan penyebaran virus Corona adalah banyaknya pasien yang tak menunjukkan gejala.
TRIBUNJATIM.COM - Umumnya pasien yang terinfeksi virus Corona atau Covid-19 menujukkan beberapa gejala.
Namun, terbaru terungkap kasus pasien terinfeksi virus Corona tanpa menjukkan gejala apapun.
Lantas bagaimana bisa pasien terinfeksi virus corona tak menujukkan gejala Covid-19? berikut ulasannya!
Beragam penelitian masih terus dilakukan oleh para ahli untuk menggali semua informasi tentang virus Covid-19.
Termasuk lonjakan jumlah pasien virus Corona di setiap negara termasuk Indonesia.
Salah satu faktor yang memengaruhi kecepatan penyebaran virus ini adalah banyaknya pasien yang tak menunjukkan gejala, sehingga mereka tak sadar jika telah membawa virus Corona.
Berikut sejumlah hal yang perlu diketahui soal infeksi virus Corona tanpa gejala:
• 5 Hal Tentang Virus Corona yang Menginfeksi Tanpa Gejala, Contoh Kasus hingga Kondisi Paru-paru
• 3 Bagian Tubuh yang Paling Rawan Terpapar Virus Corona, Penyebab 90% Masyarakat Positif Covid-19
1. Risiko transmisi
Sejauh ini, infeksi virus Corona tanpa gejala telah ditemukan di banyak negara.
Terbaru, sejumlah atlet dunia yang dinyatakan positif Covid-19 mengakui hal itu.
Para ahli masih mencoba untuk mencari tahu sejauh mana orang-orang yang terinfeksi dalam kategori ini berkontribusi dalam penyebaran virus.
Pada Minggu (22/3/2020), SCMP melaporkan, sepertiga dari pasien positif virus Corona di China baru menunjukkan gejala setelah dikonfirmasi positif. Sebelumnya, mereka tidak merasakan gejala sama sekali.
Kasus asimptomik atau tanpa gejala ditemukan di antara orang-orang yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien positif, klaster, dan melalui pelacakan kontak.
Beberapa ahli memperingatkan bahwa pasien tanpa gejala dapat membuat rute transmisi baru setelah penguncian diredakan.
"Ini memprihatinkan, mengingat banyak negara belum menerapkan tingkat pengujian komunitas yang cukup luas," kata Adam Kamradt-Scott, seorang spesialis kesehatan masyarakat di University of Sydney, dilansir dari Reuters.