Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Virus Corona di Sumenep

Korban Wabah Covid-19 yang Terusir ke Hutan Bambu Akhirnya Mendapat Bantuan dari Pemkab Sumenep

Keluarga di Sumenep yang terusir ke hutan bambu karena tak sanggup bayar kontrakan akhirnya mendapat bantuan sembako dari Pemkab Sumenep.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana | Editor: Adi Sasono
TRIBUNJATIM.COM/ALI HAFID SYAHBANA
Kabid SD Disdik Sumenep, Abd Kadir dan Kabid Pembinaan SMP Disdik Sumenep, Edy Suprayitno saat memberikan bantuan pada Sani (7) anak pertama dari Sadik (40) yang sekolah di SDN Karangduek, Kota Sumenep, Kamis (30/4/2020). 

TRIBUNJATIM.COM, SUMENEP - Akhirnya, keluarga terusir ke hutan bambu di Sumenep, mendapatkan bantuan sembako dari Dinas Pendidikan Sumenep, Madura.

Keluarga terdampak wabah Covid-19 ini sudah beberapa waktu terakhir tinggal di hutan bambu Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep.

Bantuan itu diserahkan Kepala Bidang (Kabid) SD Disdik Sumenep, Abd Kadir dan Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Sumenep, Edy Suprayitno pada Sani (7) anak pertama dari Sadik (40) yang sekolah di SDN Karangduek, Sumenep.

Cerita 1 Keluarga Sumenep Tidur di Hutan Bambu Imbas Corona, Diusir dari Kontrakan: Cari Kerja Susah

 

Pantauan TribunMadura.com ( grup TribunJatim.com ) di lokasi, rumah bambu berukuran 4 × 3 meter itu selama wabah Covid-19 dihuni keluatga Sadik (40), suami dari Rusnami (33) dan dua anaknya, Sani (7) kelas 1 SD dan Sariani (1 tahun 7 bulan).

"Kami memberikan bantuan sembako pada siswa yang terdampak Covid-19," kata Abd Kadir pada TribunMadura.com, Kamis (30/4/2020).

Hal ini, kata Abd Kadir, untuk meringankan beban orang tua siswa selama wabah Covid-19 yang sangat dirasakan dampaknya oleh orang tuanya.

"Karena ini tanggung jawab kami, ada siswa yang bersekolah SDN dan terdampak covid-19 ini. Dengan harapan bisa meringankan beban orang tua siswa yang benar - benar dirasakan oleh masyarakat bawah," katanya.

Rusnami mengaku senang dan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan selama wabah Covid-19.

"Saya terkejut dan tidak menyangka dapat bantuan berupa sembako dari Dinas Pendidikan, saya sangat berterima kasih sekali," kata Rusnami sambil menggendong anaknya yang kedua.

Untuk diketahui sebelumnya, akibat dampak wabah Covid-19, warga kurang mampu di Desa Pandian, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep itu harus tidur di hutan bambu, Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep.

Mereka harus tinggal di hutan bambu karena tak mampu membayar tempat indekos atau rumah kontrakan.

Sadik mengungkapkan, ia dan keluarga terpaksa tidur di hutan bambu karena sulitnya mencari pekerjaan di tengah wabah Covid-19.

"Saya sudah hampir dua bulan hidup bersama istri dan dua anak saya di rumah bambu ini karena diusir tak mampu membayar uang kontrakan," kata Sadik, saat ditemui TribunMadura.com di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Rabu (29/4/2020).

Bapak dari dua anak ini mengaku, sudah 4 tahun bekerja serabutan yang merantau dari pulau Kangean. Dan selama 4 tahun pula mengontrak dan sudah tidak punya tempat tinggal di rumah asalnya.

"Mengapa saya diusir, karena saya tidak punya uang untuk membayar. Selama musim corona ini uang kontrakan setiap bulan naik Rp 50 ribu. Yang awalnya bayar Rp 200 - 350 ribu," katanya.

Suami dari Rusnami (33) ini mengaku, selama pandemi Covid-19 ini juga susah mencari pekerjaan dan bahkan ia terpaksa ikut kerabatnya memanen padi untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved