Virus Corona di Surabaya
Cerita ODP Covid-19 di Perkampungan Surabaya, Mau Tak Mau Dikucilkan Tetangga: Hati Hancur
ODP virus Corona di Jalan Gubeng Kertajaya Kota Surabaya ceritakan pengalamannya mau tak mau dikucilkan tetangga. Ungkap perasaan: hati hancur.
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Hefty Suud
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Nasib para orang dalam pemantauan (ODP) virus Corona ( Covid-19 ) yang berada di dalam lingkup perkampungan memang cukup memprihatinkan.
Dampak dari status tersebut, tak jarang mereka jadi dikucilkan oleh warga sekitar yang khawatir ketularan.
Walaupun hasilnya belum tentu positif. Tak jarang ODP mau tak mau harus menerima sanksi sosial.
• Kehabisan Bensin, Jambret yang Tewaskan Driver Ojol Wanita di Surabaya Tertangkap: Masih 19 Tahun
• Kode Khusus Raul Lemos ke KD di Tengah Konflik Aurel-Azriel, Puji Istri Setinggi Langit: Stronger
Padahal, itu bisa memperburuk keadaan pasien ODP hingga mengalami depresi.
Unik Rahayu dan keluarganya yang tinggal di Jalan Gubeng Kertajaya Kota Surabaya inilah satu dari sekian banyak warga yang berstatus ODP.
Mereka mendapat status tersebut karena ketidak sengajaan.
Ibu tiga anak ini berstatus ODP Covid-19 setelah sang suami, Zen Arifin, berusia 64 tahun, mempunyai riwayat penyakit kanker prostat selama kurun waktu dua tahun terakhir.
• VIRAL Siswa SMA di Surabaya Lakukan Prosesi Kelulusan Secara Drive Thru, Jadi Lebih Aman dari Corona
• Gelombang Pertama Penyaluran BLT-DD, 15 Desa di Sampang Belum Distribusikan
Suaminya meninggal di rumah sakit sebelum hasil tes swab keluar.
Karena meninggal sebelum hasil tes swab keluar, suaminya tersebut akhirnya mendapat predikat PDP atau pasien dalam pemantauan yang akhirnya dimakamkan dengan protokol Covid-19
"Dari situlah status ODP kami muncul, karena dianggap orang yang berhubungan langsung dengan bapak. Secara otomatis akan menyandang status itu,"ungkapnya, Rabu Siang (10/6/2020).
• Nyamar Jadi Tukang Bakso, Polisi Ringkus 2 Pengedar Sabu Surabaya, Tersangka: Order Percetakan Sepi
Kesedihan keluarga unik rahayu tak berhenti sampai disitu. Dirinya harus menghadapi sanksi sosial hingga dikucilkan oleh para tetangga dan warga sekitarnya.
"Para tetangga pun takut setelah mendengar kabar meninggalnya suami. Bahkan bendera palang merah yang selalu menjadi simbol ketika ada warga meninggal pun, tak diberikan oleh pihak RT setempat," jelasnya.
"Alasannya takut akan status ODP dan akan memicu kerumunan warga," sambungnya.
Meski hati merasa hancur, Unik Rahayu pun berusaha tetap tegar dengan mengejar hasil tes swab suaminya.
Setelah lebih dari 7 hari menunggu, akhirnya hasil tes swab suaminya keluar dan ternyata dinyatakan negatif.
"Sedikit lega, namun kami tetap menanggung sanksi sosial. Sejak awal, warga sekitar tetap menyangka bahwa suami meninggal dengan status PDP Covid-19," terangnya.
Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: Heftys Suud