Tipuan Licik 2 Pria Ini Jual Sabu Jadi 'Obat Penangkal Covid-19', Edarkan ke Warga WFH, Lihat Ending

Kedapatan membawa narkotika jenis sabu, NDR (26) warga Desa Tawanganom dan AR (29) warga Desa Candirejo keduanya dari Magetan diringkus BNN Nganjuk.

TRIBUNJATIM.COM/ACHMAD AMRU MUIZ
Kepala BNN Kabupaten Nganjuk, AKBP Bambang Sugiharto (kanan) saat menggelar rilis kasus pengungkapan peredaran sabu-sabu jaringan antar kota yang berhasil disergap tim BNN Nganjuk. 

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Kedapatan membawa dan memiliki narkotika jenis sabu, NDR (26) warga Desa Tawanganom dan AR (29) warga Desa Candirejo keduanya dari Magetan diringkus tim BNN Nganjuk.

Dari tangan kedua tersangka, BNN mengamankan barang bukti sabu seberat 33,02 gram, ratusan plastik klip siap pakai, dua alat timbangan, seperangkat alat hisap sabu, ponsel, buku tabungan, serta satu unit mobil Toyota Innova.

Kepala BNN Nganjuk AKBP Bambang Sugiharto menjelaskan, kedua pelaku disergap tim khusus BNN Nganjuk saat melintas di Jalan Tol Saradan-Madiun, tepatnya di kilometer 626.

UPDATE CORONA di Nganjuk Senin 22 Juni, Total 59 Kasus Positif Covid-19, PDP 138, OTG 1.933 orang

Pria 56 Tahun Positif Covid-19 di Nganjuk Meninggal Dunia, Gugus Tugas Ungkap Riwayat Sakit Jantung

Diduga Jadi Penadah Hasil Curian Motor, 3 Karyawan Swasta Diringkus Satreskrim Polres Nganjuk

"Keduanya merupakan jaringan Surabaya-Magetan, dan sudah diintai tim BNN pergerakannya sebelum akhirnya berhasil diamankan bersama barang bukti yakni narkotika golongan I (amphetamine/sabu-sabu)," kata Bambang, Selasa (23/6/2020).

Dijelaskan Bambang, BNN Nganjuk mengetahui modus peredaran narkotika yang memanfaatkan celah Pandemi Covid-19.

Dimana kedua pelaku ditangkap tim BNN Nganjuk saat hendak mengedarkan narkotika di wilayah Magetan dan sekitarnya. Dan sindikat narkoba saat ini sedang memanfaatkan celah di tengah masa pandemi Covid-19 atau Corona.

Yakni, menjual sabu-sabu kepada masyarakat dengan modus sebagai obat penangkal Covid-19.

"Rupanya momen banyak orang kerja di rumah atau Work From Home (WFH) yang dimanfaatkan mereka. Seolah-olah dengan menggunakan narkotika bisa memunculkan euforia dan menghilangkan rasa jenuh serta capek," ucap Bambang.

Bahkan, tambah Bambang, agar calon pembeli lebih percaya para bandar dan pengedar sabu-sabu menggunakan istilah atau nama baru untuk barang haram tersebut. Yakni ada yang menyebut serbuk putih, ice, kristal, ice, dan SS.

Untuk kedua tersangka yang diamankan tersebut, menurut Bambang, untuk tersangka AR dan NDR berperan sebagai bandar, pengedar, sekaligus pemakai sabu-sabu. Wilayah operasinya berada di sekitar Magetan yang masih termasuk dalam wilayah operasi BNN Kabupaten Nganjuk.

"Dari pengungkapan ini, BNN Nganjuk telah berhasil menyelamatkan 160 calon pengguna, termasuk anak-anak. Karena setiap 1 gram sabu-sabu biasanya dikonsumsi oleh 4 orang anak," tandas Bambang.

Kedua pelaku pengedar sabu-sabu tersebut, tambah Bambang, yang merupakan residivis kasus serupa kini ditetapkan sebagai tersangka dan telah ditahan.

Untuk tersangka AR dijerat pasal 127 ayat 1, sedangkan NDR dijerat pasal 114 ayat 1 dan pasal 112 Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara.

"Dan penyidik BNN Kabupaten Nganjuk juga tengah mempertimbangkan untuk menjerat keduanya dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU)," tutur Bambang.

Penulis: Achmad Amru Muiz
Editor: Sudarma Adi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved