Virus Corona di Kediri

Warga Kota Kediri Diminta Waspadai Merebaknya Penyakit Chikungunya dan DBD Saat Pandemi Covid-19

Warga Kota Kediri diminta waspada merebaknya penyakit Chikungunya dan demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi saat pandemi virus Corona atau Covid-19

SURYA/DIDIK MASHUDI
Penjualan ikan cupang melonjak saat wabah demam berdarah melanda wilayah Kediri, Sabtu (23/3/2019). 

 TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Warga Kota Kediri diminta waspada merebaknya penyakit Chikungunya dan demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi saat pandemi virus Corona atau Covid-19. Serangan chikungunya dan DBD paling banyak terjadi siang antara pukul 10.00 sampai 12.00 WIB.

Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri, dr Fauzan Adima M.Kes mengingatkan, jumlah penderita Chikungunya dan DBD pada bulan Juni bahkan tertinggi sejak awal 2020.

“Penderita Chikungunya pada bulan Juni ini sebanyak 128 orang. Paling banyak ditemukan di Kecamatan Mojoroto sebanyak 88 orang,” ungkap dr Fauzan Adima, Kamis (25/6/2020).

Pasien Chikungunya di Kecamatan Mojoroto tersebar di Puskesmas Campurejo (23 orang) dan Puskesmas Sukorame (65 orang). Kelurahan terjangkit di Kelurahan Campurejo, Tamanan, Sukorame, Bujel dan Mojoroto.

Pasien Chikungunya juga ditemukan di Kelurahan Banaran (40 orang) saat ini menjalani perawatan di Puskesmas Pesantren. Jumlah ini meningkat tajam dari bulan Mei 2020 hanya 17 orang yang terjadi di Kelurahan Mojoroto.

Sejak bulan Januari 2020 hingga akhir Juni 2020, jumlah keseluruhan kasus Chikungunya di Kota Kediri sebanyak 191 kasus.

Derita Ashanty di Awal Jadi Istri Anang, Dicap Ngerebut dari KD, Ayah Aurel Kasihan: Paling Kejam!

Cerita John Kei dan Ratusan Anak Buah, Saya Suruh ke Neraka, Mereka Pergi, Dimulai Ketika Ia Bebas

Uang Jajannya Dibongkar Raffi Ahmad, Nagita Slavina Berikan Reaksi Tak Biasa, Sule: Sedikit Sekali

Sementara temuan kasus demam berdarah dengue (DBD) cenderung kecil. Sejak Januari hingga Mei 2020, jumlah pasien DBD sebanyak 100 orang tersebar merata di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri dan Pesantren.

Angka tertinggi kasus DBD terjadi di Maret sebanyak 30 kasus. Sedangkan data bulan Mei jumlahnya mulai turun menjadi 15 kasus.

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus melalui sengatan nyamuk Aedes Aegypti ini memang kerap terjadi di daerah tropis, seperti Indonesia. Demam Chikungunya dan DBD memiliki banyak kemiripan pada tahap awal, sehingga kerap terjadi salah diagnosis untuk pengobatannya.

Dijelaskan, nyamuk Aedes Aegypti memiliki karakteristik dalam menyengat manusia antara pukul 10.00 – 12.00 WIB dan pukul 16.00 - 17.00 WIB atau sebelum Maghrib.

“Penting untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan di masa pandemi virus Corona atau Covid-19. Selain kebersihan diri untuk mencegah corona, juga mengantisipasi sengatan nyamuk,” kata Fauzan Adima.

Gejala klinis yang muncul akibat sengatan nyamuk adalah demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta ruam. Fase berikutnya mulai ada perbedaan pada DBD, dimana pasien bisa mengalami perdarahan ringan hingga neutropenia.

Perbedaan lainnya adalah demam Chikungunya memiliki masa inkubasi virus sekitar 1 – 12 hari. Sedangkan gejala dan penyakitnya bisa berlangsung sekitar satu hingga dua minggu.

Untuk penderita DBD masa inkubasinya 3 – 7 hari, dengan durasi penyakit bisa berlangsung dari 4 – 7 minggu, tergantung sistem kekebalan tubuhnya. Sehingga disarankan mengonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga teratur.(dim/Tribunjatim.com)

Penulis: Didik Mashudi
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved