Breaking News

Berita Kediri

Naiknya Harga LPG Non-Subsidi Bikin Masyarakat Menjerit, Sektor Perhotelan di Kediri Kena Dampak

Kenaikan harga LPG non subsidi mulai memberikan dampak pada berbagai sektor usaha, termasuk industri perhotelan di Kabupaten Kediri.

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: Januar
Tribun Jatim Network/Isya Anshori
EFISIENSI - Suasana loby Fave Hotel di Ngasem Kediri, Selasa (21/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga LPG non subsidi mulai dirasakan oleh industri hotel, termasuk Favehotel Kediri, karena gas menjadi kebutuhan penting untuk operasional dapur, restoran, dan layanan MICE.
  • Hotel mulai mengurangi penggunaan gas tinggi dengan mengganti menu menjadi lebih efisien (rebus, kukus, menu lokal), serta mengantisipasi dampak turunnya kunjungan tamu akibat kenaikan biaya transportasi dan efisiensi anggaran perusahaan.

 


Laporan wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Kenaikan harga LPG non subsidi mulai memberikan dampak pada berbagai sektor usaha, termasuk industri perhotelan di Kabupaten Kediri.

Meski belum dirasakan secara signifikan, pelaku usaha mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas operasional.

Marketing Communications Favehotel Kediri, Mohamad Ikhwan mengakui bahwa kenaikan harga gas menjadi perhatian serius. Pasalnya, LPG merupakan salah satu komponen penting dalam operasional hotel sehari-hari.

"Untuk kenaikannya sih pasti berdampak, sedikit banyak pasti berdampak. Karena gas memang merupakan konsumsi sehari-hari," jelasnya saat ditemui, Selasa (21/4/2026). 

Ikhwan menjelaskan, penggunaan gas di sektor perhotelan tidak hanya untuk kebutuhan kamar, tetapi juga menunjang layanan lain seperti restoran, dapur, hingga kegiatan meeting, incentive, convention dan exhibition (MICE).

Baca juga: Laundry di Banyuwangi Babak Belur Dihajar Kenaikan Harga LPG-Plastik: Lebih Berat dari Masa Pandemi

"Bisnis hotel kan tidak hanya kamar, tapi kami produksi makanan, kemudian MICE dan sebagainya. Jadi secara tidak langsung pasti berdampak," jelasnya.

Meski demikian, hingga saat ini dampak tersebut masih dalam tahap awal dan belum terlalu membebani. 

Namun, jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, pihak hotel mengaku akan melakukan berbagai penyesuaian.

"Karena ini masih baru ya, jadi memang saat ini masih sedikit dampaknya. Cuman kalau ini berlangsung lama, kami butuh efisiensi lagi dan strategi ke depan," ungkapnya.

Salah satu langkah yang mulai dipertimbangkan adalah melakukan evaluasi terhadap menu makanan yang membutuhkan konsumsi gas tinggi dalam proses pengolahannya.

"Kami sedang mengkurasi makanan yang tidak mengonsumsi banyak gas. Jadi mengurangi menu yang high gas consumption seperti deep frying dan slow cooking," paparnya.

Sebagai alternatif, hotel mulai mengarahkan pada menu yang lebih efisien sekaligus sehat, seperti makanan rebusan, kukus, maupun menu lokal yang dinilai lebih hemat energi.

"Ke depan mungkin kita lebih campaign ke menu sehat seperti rebusan, steam, atau menu lokal yang lebih efisien," tambahnya.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved