Sudah Seusai Protokol, Tak Perlu Takut Lakukan Tremantent Nail Art

Di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masyarakat banyak meninggalkan treatment nail art.

ahmad Zaimul Haq/suraya
Perawatan kuku yang dilakukan di Me-Nail Tunjungan Plaza Surabaya. Memasuki new normal, salon kecantikan kuku ini memberlakukan protokol pencegahan covid-19. 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masyarakat banyak meninggalkan treatment nail art.

Alhasil, banyak yang mengecat kuku sendiri di rumah. Meski demikian, hasilnya tidak sebagus saat dilakukan oleh nail artist yang profesional.

Tapi sekarang tak perlu khawatir. Menyambut new normal, sejumlah pelaku nail art sudah mempersiapkan protokol pencegahan covid-19 yang memprioritaskan keamanan dan kebersihan.

"Sekarang sudah mulai banyak pengunjung yang datang meskipun jumlahnya tidak seramai sebelum pandemi," ungkap pemilik Me-Nail, Ellysa Gita Giri.

Untuk mencegah penularan virus Corona atau Covid-19, pihaknya telah memberlakukan protokol yang baru. SOP ini meliputi banyak hal, mulai dari pegawai, pengunjung, sampai kebersihan alat-alat yang digunakan.

2 Hari sebelum Membakar Mobil Alphard Via Vallen Begini Gelagat Pria Terduga Pelaku, Berkomplot?

Sedih Pemasukannya Hilang Rp 4 Miliar Gegara Corona, Reza Dangdut Academy: 10 Jadwal Manggung Batal

UPDATE Daftar Wilayah Zona Merah Covid-19 di Indonesia, Ada 13 Kota dan Kabupaten di Jawa Timur

"Kami memberlakukan protokol kesehatan yang lebih ketat. Sebelumnya, SOP kami mewajibkan pegawai mengenakan masker dan sarung tangan. Kini, ditambah face shiled," Ellysa mengatakan.

Pemakaian sarung tangan diwajibkan kepada nailist yang melayani treatment manicure and padicure, eyelashes, dan waxing.

"Sementara untuk membuat nail art, tidak, karena malah akan membuat licin," katanya.

Untuk face shield yang digunakan, juga secara berkala disterilkan menggunakan disinfektan dan alkohol untuk menghindari penyebaran virus, juga sebagai strategi menjaga percayaan costumer.

Ellysa mangaku, pihaknya mengeluarkan biaya lebih banyak di masa pandemi. Untuk sarung tangan misalnya, hanya untuk sekali pakai.

Halaman
12
Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved