Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Sudah Seusai Protokol, Tak Perlu Takut Lakukan Tremantent Nail Art

Di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masyarakat banyak meninggalkan treatment nail art.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Yoni Iskandar
ahmad Zaimul Haq/suraya
Perawatan kuku yang dilakukan di Me-Nail Tunjungan Plaza Surabaya. Memasuki new normal, salon kecantikan kuku ini memberlakukan protokol pencegahan covid-19. 

 TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masyarakat banyak meninggalkan treatment nail art.

Alhasil, banyak yang mengecat kuku sendiri di rumah. Meski demikian, hasilnya tidak sebagus saat dilakukan oleh nail artist yang profesional.

Tapi sekarang tak perlu khawatir. Menyambut new normal, sejumlah pelaku nail art sudah mempersiapkan protokol pencegahan covid-19 yang memprioritaskan keamanan dan kebersihan.

"Sekarang sudah mulai banyak pengunjung yang datang meskipun jumlahnya tidak seramai sebelum pandemi," ungkap pemilik Me-Nail, Ellysa Gita Giri.

Untuk mencegah penularan virus Corona atau Covid-19, pihaknya telah memberlakukan protokol yang baru. SOP ini meliputi banyak hal, mulai dari pegawai, pengunjung, sampai kebersihan alat-alat yang digunakan.

2 Hari sebelum Membakar Mobil Alphard Via Vallen Begini Gelagat Pria Terduga Pelaku, Berkomplot?

Sedih Pemasukannya Hilang Rp 4 Miliar Gegara Corona, Reza Dangdut Academy: 10 Jadwal Manggung Batal

UPDATE Daftar Wilayah Zona Merah Covid-19 di Indonesia, Ada 13 Kota dan Kabupaten di Jawa Timur

"Kami memberlakukan protokol kesehatan yang lebih ketat. Sebelumnya, SOP kami mewajibkan pegawai mengenakan masker dan sarung tangan. Kini, ditambah face shiled," Ellysa mengatakan.

Pemakaian sarung tangan diwajibkan kepada nailist yang melayani treatment manicure and padicure, eyelashes, dan waxing.

"Sementara untuk membuat nail art, tidak, karena malah akan membuat licin," katanya.

Untuk face shield yang digunakan, juga secara berkala disterilkan menggunakan disinfektan dan alkohol untuk menghindari penyebaran virus, juga sebagai strategi menjaga percayaan costumer.

Ellysa mangaku, pihaknya mengeluarkan biaya lebih banyak di masa pandemi. Untuk sarung tangan misalnya, hanya untuk sekali pakai.

"Setiap satu costumer, satu sarung tangan. Dulu kan tidak. Kalau dulu, sarung tangan bisa dipakai berkali-kali. Kami mementingkan keselamatan dan kesehatan," imbuhnya kepada TribunJatim.com.

Protokol juga diberlakukan untuk costumer. Setiap kali datang, mereka wajib mencuci tangan menggunakan sabun, memakai handsanitizer, dan mengenakan masker.

"Kami juga menyediakan masker bagi costumer kalau tidak membawanya," kata Ellysa kepada TribunJatim.com.

Agar lebih steril, juga dilakukan penyemprotan disinfektan di tempat treatment.

Ellysa mengatakan, memang terjadi penurunan omzet 20 sampai 30 persen jika dibandingkan sebelum pandemi covid-19.

"Biasanya per hari bisa dapat Rp 3 juta, sekarang Rp 1,5 juta. Di masa normal baru ini, setiap orang merintis usaha dari nol. Jadi benar-benar menjalankan protokol sesuai arahan pemerintah," pungkasnya.

Diberlakukan protokol pencegahan covid-19 di salon kuku pun direspon positif oleh costumer.

Vani, salah satu costumer Me-Nail akhirnya bisa lega karena sudah bisa memanjakan kukunya tanpa merasa takut.

"Sudah hampir sebulan saya nggak melakukan perawatan. Ini baru pertama," katanya.

Menurutnya, protokol yang dijalankan ia rasa aman sehingga membuatnya yakin untuk melakukan perawatan kuku lagi.

"Menurut saya sudah sesuai ya protokol kesehatannya. Saya juga tidak ingin kan ada penularan ketika ditempat umum. Dengan kondisi ini saya mulai berani datang lagi ke tempat perawatan setelah sebelumnya sempat was-was," tandasnya. (Christine Ayu/Tribunjatim.com)

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved