Terdampak Wabah Covid-19, Anggaran Antisipasi Bencana Kekeringan di Trenggalek Sisa Rp 137 Juta
Sekertaris BPBD Kabupaten Trenggalek, Pipit Tri Puspitasari kuak sisa anggaran antisipasi bencana kekeringan sisa Rp 137 Juta. Terdampak Covid-19.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Hefty Suud
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau bakal terjadi Agustus mendatang.
Sebagai salah satu daerah paling rawan kekeringan di Jawa Timur, Trenggalek kini tengah menyiapkan sarana dan prasarana untuk menghadapi bencana kekeringan.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek, Pipit Tri Puspitasari mengatakan, truk pengangkut air ke daerah kekeringan mulai disiapkan.
• Latihan Perdana Arema FC Bisa Mundur Sampai Setelah Idul Adha, Manajemen: Ada Beberapa Kendala
• 295 Tenaga Kesehatan di Jatim Terpapar Covid-19 hingga Awal Juli, 23 Meninggal, 84 Dalam Perawatan
"Kami di BPBD ada 4 truk. Semua sudah siap. Ready untuk sarana dan prasarana," ucapnya, Selasa (14/7/2020).
Jika kelak kekeringan meluas, BPBD akan kembali menggandeng Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat untuk distribusi air.
Pipit bilang, PDAM mempunya lima truk yang bisa dipakai untuk membantu pendistribusian air. Mobil-mobil itu juga dipakai untuk hal serupa saat kekeringan tahun lalu.
• VIRAL Cowok Tampan Punya Pacar Berjerawat, Tak Pergi Malah Dibantu sampai Glowing: Dia Belikan Semua
• Masuki Musim Kemarau, PMK Nganjuk Imbau Warga Waspada Kebakaran, Minta Teliti Tungku-Elektronik
Pipit berharap, kekeringan tahun ini tak separah tahun sebelumnya. Pada 2019, jumlah titik kekeringan mencapai 66 desa.
"Mudah-mudahan tidak seperti tahun kemarin. Mudah-mudahan juga tidak ada hari tanpa hujan," ujar Pipit.
Awal mula kekeringan tahun ini di Kabupaten Trenggalek juga mundur. Tahun lalu, desa-desa di Trenggalek mulai mengajukan permintaan pengiriman air sejak Juni.
• 8 Provinsi dengan Jumlah Kasus dan Laju Insidensi Tinggi, Perlu Tingkatkan Penanganan Covid-19
"Desa pertama yang mengajukan bantuan air dari pengalaman tahun lalu biasanya dari Kecamatan Suruh dan Panggul," sambung Pipit.
Soal anggaran, ia menyebut dana penyediaan air bersih untuk antisipasi kekeringan juga terdampak refocusing akibat pandemi virus Corona ( Covid-19 ).
Awalnya, BPBD menganggarkan Rp 425 juta untuk antisipasi bencana. Akibat pengalihan, anggaran yang tersisa menjadi Rp 137 juta.
Dari jumlah itu, anggaran untuk air bersih Rp 30 juta.
Apabila dana kurang, BPBD akan kembali mengajukan tambahan dana dari Belanja Tidak Terduga (BTT) milik pemkab maupun Pemprov Jatim. Juga anggaran siap pakai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pipit menjelaskan, BPBD membutuhkan anggaran sekitar Rp 604 juta untuk penanganan kekeringan tahun lalu.
Rinciannya, Rp 200 juta dari APBD dan Rp 406 juta dari BTT kabupaten.
"Sebagian besar untuk biaya pengiriman. Kalau air murah. Satu tangki antara Rp 60 ribu sampai Rp 75 ribu. Yang mahal BBM (Bahan Bakar Minyak)," tutur Pipit.
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Heftys Suud