Breaking News:

Sambangi Desa, Wabup Ngawi Ony Dengarkan Curhatan Para Pelajar

Wakil Bupati Ngawi, Ony Anwar dan Ketua DPRD Ngawi, Dwi Riyanto Djatmiko di sela-sela kegiatan "Sambang Desa" di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal,

istimewa
Wakil Bupati Ngawi, Ony Anwar, mendengarkan keluhan para pelajar yang belajar di rumah kepala desa. 

 TRIBUNJATIM.COM, NGAWI - Sejumlah anak tampak sibuk membuka aplikasi di ponsel, sesekali mereka menulis di buku. Anak-anak ini sedang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru mereka.

Para pelajar MTS ini terpaksa mengerjakan tugas di halaman rumah Kepala Desa Dadapan, untuk mendapatkan koneksi internet atau Wi-Fi. Maklum, sejak pandemi virus Corona atau Covid-19, kegiatan belajar di sekolah ditiadakan, dan diganti secara daring atau online.

Pagi itu, Selasa (28/7/2020) Wakil Bupati Ngawi, Ony Anwar dan Ketua DPRD Ngawi, Dwi Riyanto Djatmiko di sela-sela kegiatan "Sambang Desa" di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, menyempatkan menyapa para pelajar ini.

"Wah sedang belajar ya, bagaimana ada kendala apa?," kata Wakil Bupati Ngawi, Ony Anwar, saat menyapa anak-anak yang sedang belajar.

Seorang pelajar, Rizka Melinda (12) mengatakan orangtuanya tidak mampu membelikan paket data internet, sehingga ia dan kawan-kawannya terpaksa menumpang Wi-Fi di rumah kepala desa.

"Nggak ada kuota, jadi numpang di rumah pak kades," kata pelajar kelas VIII MTSN 13 Ngawi ini.

Aksi Bullying Pelajar SMK di Bekasi, Tendang Wajah & Paksa Cium Kaki Teman, Pelaku Tertawa Sinis

Wanita Baru Menikah Tewas Dihajar Suami Gegara Uang Kembalian, Sembunyi di Toilet Tetangga: Pingsan

Warga Surabaya Manfaatkan Layanan Rapid Test Gratis KAI Daop 8: Syarat Berpergian dan Melamar Kerja

Ia menuturkan, setiap hari, mulai sekitar pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB, ia dan teman-temannya belajar bersama di rumah kades.

"Setiap hari, kecuali hari Minggu," kata Rizka sambil tertawa.

Senada juga dikatakan teman sekelasnya, Toyibah Dwi Wahyu Ari (12). Ia mengatakan, orangtuanya yang berprofesi sebagai petani tidak mampu membeli paket data internet.

Apalagi, setiap bulan, orangtuanya harus membayar cicilan ponselnya Rp 217 ribu sebulan sekali. "Tidak punya uang buat beli kuota," katanya.

Halaman
12
Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved