Pilkada Kota Pasuruan
Peneliti Pusat Advokasi dan Advokasi Kebijakan Lujeng Sudarto: Gus Ipul Unggul di Pilwali Pasuruan
Atmosfer Pilwali Kota Pasuruan terus menghangat menjelang dibukanya pendaftaran calon wali kota dan wakil walikota 4 - 6 September mendatang.
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Yoni Iskandar
TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Atmosfer Pilwali Kota Pasuruan terus menghangat menjelang dibukanya pendaftaran calon wali kota dan wakil walikota 4 - 6 September mendatang.
Banyak yang memprediksi Pilwali Kota Pasuruan ini adalah perang bintang. Sejauh ini, sudah ada dua pasangan yang akan turun dalam gelanggang kontestasi lima tahunan.
Pertama adalah TEGAS yakni Raharto Teno Prasetyo, sang petahanan bersama M Hasjim Asjari. Kedua,adalah pasangan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama Adi Wibowo.
TEGAS diusung empat mesin partai diantaranya adalah PDIP, NasDem, Hanura dan Gerindra.
Sedangkan Gus Ipul - Mas Adi diusung lima mesin partai yakni PKB, Golkar, PAN, PKS dan PPP.
Lantas siapa yang berpeluang menang ? Koalisi di kubu petahana atau kubu penantang yang sarat dengan banyak pengalamannya.
• Geger Status WA Foto Perangkat Desa Muda Tidur dengan WIL, Si Istri: Kau Berani Jajan Wanita Lain!
• 7 Kebijakan Uang Pulsa dari Pemerintah, PNS akan Dapat Rp 400 Ribu & Mahasiswa Rp 150 Ribu Per Bulan
Peneliti Pusat Studi dan Advokasi Kebijakan (PUSAKA) Lujeng Sudarto mengatakan, Gus Ipul - Mas Adi , ataupun TEGAS, sama - sama berpeluang menang dalam kontestasi Pilwali Kota Pasuruan.
"Dalam kontestasi pilkada, kemenangan calon ditentukan oleh dua kemungkinan. Pertama, pendekatan political machine atau mesin politik, kedua pendekatan political behavior," kata dia kepada TribunJatim.com, Selasa (1/9/2020).
Dia menjabarkan, untuk pendekatan political machine atau mesin politik, kemenangan pilkada ditentukan oleh soliditas dan struktur partai yang mampu bekerja maksimal, apalagi didukung oleh koalisi besar.
Sedangkan, political behavior, lanjut Lujeng, sapaan akrabmya, kemenangan pilkada ditentukan oleh perilaku politik masa. Bagaimana masa mempersepsikan masing-masing calon untuk dipilih.
"Dalam pendekatan poltical behavior yang marketable adalah figur. Keberadaan parpol pendukung tidak memiliki peran signifikan," tambahnya kepada TribunJatim.com.
• Adly Fairuz Hijrah dari Dunia Artis, Cucu Maruf Amin Maju Jadi Cawabup Karawang: Siap Menang Kalah
Lujeng memaparkan, banyak contoh kasus calon-calon yg diusung oleh koalisi besar dari parpol pemenang pemilu yang justru tumbang.
"Pilwali justru dimenangkan oleh calon yang didukung oleh koalisi terbatas dan bukan pemenang pemilu di beberapa daerah di Indonesia," urainya.
Seperti diantaranya, kemenangan Jokowi-Ahok pada Pilgub DKI. Kemenangan Soeyoto pada pilkada Bojonegoro yang hanya disokong oleh koalisi terbatas.
Pilwakot Makasar justru dimenangkan oleh kotak kosong. Pilkada Tuban kemenangan Bupati Haeny Relawati yang hanya diusung Golkar dan koalisi terbatas bisa mengalahkan koalisi PKB dan PDIP.