Ketua BPD Gapensi Jatim Agus Gendroyono: Perlu Ada Jembatan antara Kontraktor Besar dan Kecil
pekerjaaan rumah besar harus dituntaskan oleh pemerintah dan masyarakat yang bergerak di bidang jasa kontruksi.
Apalagi, lanjut Agus Gendroyono, E-KTP, NPWP, NIB dan lain-lain sudah memiliki sumber data elektronik yang bisa menyederhanakan berbagai ketentuan. Keberadaanya sudah bisa jadi indikator telusur, dengan tanpa harus menyajikan data berulang yang sering kali jadi hambatan pemenuhan data administratif bagi kontraktor kecil.
Sistem lelang yang terinteggrasi merupakan jawaban atas penyederhanaan di atas, sekaligus mampu melibatkan kontraktor yang lebih luas dari seluruh tanah air.
Hal itulah yang dinilai Agus Gendroyono sebagai akar masalah. Ha itu juga untuk memulai tahap berikutnya dalam menjembatani jurang antara kontraktor besar dan kecil, maupun kontraktor di Jawa dan Luar Jawa. Dengan data elektronik yang mencantumkan pengalaman kerja, kemampuan keuangan, kepemilikan peralatan dan SDM bersertifikat, akan bisa memacu pemerintah dan LPJK nanti untuk merampingkan piramida.
Tentunya, dengan memberikan kesempatan dan kewajiban bagi kualifikasi kecil dan menengah.
“Bagaimana yang kecil bisa jadi menengah, dan yang menengah bisa naik kelas menjadi besar,” harap pengusaha yang dibesarkan orang tuanya dengan profesi sopir bus ini.
Pihaknya, kata Agus menyadari bahwa hal ini perlu dirumuskan bersama sehingga mendapat logaritma yang adil dan bertanggungjawab agar pemerataan dan keadilan bisa terwujud.
“Saya setuju dengan harapan bahwa akselarasi proyek-proyek strategis nasional yang ada di daerah menjadi cara ampuh untuk mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi. Apalagi kalau kemitraan proyek besar dengan penyedia lokal sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang mengerjakan,” tandasnya.
Apalagi, Presiden sendiri, kata Agus, sudah memerintahkan bahwa proyek strategis nasional di daerah harus membuka lapangan kerja; baik untuk tenaga kerja, maupun dunia usaha termasuk di dalamnya jasa kontruksi.
Ke depan proyek-proyek nasional, proyek daerah sampai ke proyek terkecil di tingkat desa dapat dilaksanakan dengan transparan, akuntable tapi juga adil dn merata.
Agus yang berasal dari keluarga sederhana mengakui, bahwa sistem yang ada sekarang menyebabkan ia harus merangkak dari bawah untuk mewujudkan impian seorang kontraktor Indonesia.
Anak seorang sopir bus ini harus berkelana ke berbagai kota untuk mencicipi sekolah maupun mencari pekerjaan.
Hanya untuk SMA saja ia harus pindah beberapa kali, dari Bojonegoro ke Batam dan kembali ke Bojonegoro lagi. Sedangkan sebagai kontraktor ia memulai dari Gresik.
Prinsipnya, mencari pengalaman dan pendidikan harus sejalan. Selama 15 tahun, ia memulai dengan proyek yang hanya puluhan juta sampai mendapatkan proyek bernilai ratusan miliar.
Dengan pengalaman dan pergulatan begitu lama dari bawah, dirinya menyadari sengkarut ekonomi karena kita terlena oleh pemujaan terhadap egoisme dan kerakusan.
Agus Gendroyono lantas mengutip sebuah artikel Yudi Latief yang mengkhawatirkan, bahwa kita semua terjebak pada status quo yang mengukuhkan kemapanan, tanpa bisa kembali kepada upaya pemerataan dan keadilan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/agus-gendroyono-ketua-bpd-gapensi-jatim.jpg)