Breaking News:

Pilkada Gresik

Ratusan Nelayan Beri Dukungan Gus Yani - Bu Min

Ratusan nelayan Muara Bengawan Solo Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik merapatkan barisan mendukung Paslon Fandi- Ning Min

Penulis: Willy Abraham | Editor: Yoni Iskandar
Willy Abraham/Tribunjatim
Gus Yani (tengah) saat berbincang dengan nelayan di sungai muara bengawan solo, Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik, Selasa (29/9/2020). 

 TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Ratusan nelayan Muara Bengawan Solo Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik merapatkan barisan mendukung Paslon Cabup dan Cawabup Gresik, Fandi Akhmad Yani - Aminatun Habibah (Niat).

Mereka berharap Gus Yani - Bu Min (Niat) mampu membuat perubahan dengan berpihak kepada para nelayan tradisional. Sebab, selama ini tidak ada perlindungan hukum yang jelas untuk mereka. Terutama penggunaan alat tangkap di wilayah perairan Gresik.

Ketua Rukun Nelayan Muara Solo, Khusnul Arifin menyebut, masih banyak nelayan luar daerah yang masuk wilayah Gresik menggunakan alat tangkap jaring trawl. Tak hanya hanya merusak laut, tetapi berpotensi mematikan mata pencarian nelayan tradisional.

Keberadaan jaring trawl kerap menimbulkan konflik dengan nelayan tradisional asal Ujungpangkah. Khususnya Pangkah Wetan.

"Tahun 2017 lalu terjadi konflik besar antara nelayan jaring trawl dengan nelayan tradisional sini," ujar Khusnul Arifin kepada TribunJatim.com.

Nyerah, Ayu Ting Ting Jengkel Bilqis Rewel Diajari Enggak Ngerti-ngerti, Tak Kuasa Tahan Tangisnya

BREAKING NEWS: Sesosok Jasad Perempuan Misterius Ditemukan Tinggal Kerangka di Ladang Tebu Mojokerto

Buron 4 Tahun, Polres Pasuruan Amankan Pelaku Pembunuhan

Oleh sebab itu, Gus Yani - Bu Min jika terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Gresik, harus membuat aturan tegas. "Kami minta ke Gus Yani harus ada Perda tentang aturan larangan jaring trawl di wilayah Gresik," harapnya kepada TribunJatim.com.

Pihaknya mengaku tidak pernah melarang nelayan mencari ikan di laut. Karena sama-sama mencari nafkah untuk keluarga. "Tapi kami melarang alat tangkapnya (trawl, Red)," imbuhnya.

Selain persoalan trawl, dangkalnya muara Bengawan Solo juga menjadi sorotan. Saat air surut, banyak nelayan yang tidak bisa melaut. "Kami juga ingin ini ada solusi," ungkapnya.

Kemudian, masalah jalur perdagangan nelayan dan pedagang luar yang mengalami kerusakan. Tahun 2018 lalu sempat mengalami abrasi, jalannya ambles hingga kedalaman 3 meter.

Kerusakan itu sudah diajukan kepada Pemkab Gresik, namun tak kunjung ada jawaban sampai sekarang. "Warga memperbaiki sendiri secara swadaya dan dibantu perusahaan," katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved