Breaking News:

Pilkada Banyuwangi

Beredar Spanduk Serangan, Kampanye Hitam Membayangi Pilkada Banyuwangi

Pilkada Banyuwangi kian dinamis. Namun sayangnya, bukan ke arah demokrasi yang sehat. Melainkan ke arah hujatan yang buruk

Surya/Haorrahman
Spanduk serangan kampanye hitam menjelang Pilkada Banyuwangi 

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Pilkada Banyuwangi kian dinamis. Namun sayangnya, bukan ke arah demokrasi yang sehat. Melainkan ke arah hujatan yang buruk. Yang terbaru, spanduk tak bertanggung jawab mulai muncul yang mendiskreditkan salah satu calon bupati.

Setidaknya, ini dialami oleh pasangan Ipuk Fiestiandani-Sugirah. Setelah muncul berbagai macam spanduk terkait tudingan dinasti, muncul lagi spanduk yang lebih vulgar dan lebih kasar.

Spanduk ini muncul di antaranya di Jalan Kepiting, Jalan Teratai, dan Jalan Adi Sucipto. Spanduk tersebut bertuliskan:

“Wong Wedok Iku Nggone Nang Sumur, Dapur, Kasur, Gak Dadi Bupati” yang artinya “Perempuan Itu Tempatnya di Sumur, Dapur, Kasur, Bukan Jadi Bupati”. Ada pula spanduk bertuliskan “Bupati Kok Wedok” yang artinya “Bupati Kok Perempuan”. Spanduk ini jelas menyasar Ipuk, perempuan yang ikut dalam Pilkada Banyuwangi 2020.

’’Saya melihat spanduk itu pagi ini. Tidak tahu siapa yang memasang,’’ ujar Abda Alif, warga yang sempat melintas dan melihat spanduk dengan latar warna merah dan putih tersebut kepada TribunJatim.com.

Baca juga: Penutupan Jalan Basuki Rahmat Dinilai Mendadak, Lalu Lintas di Akses Jalur Alternatif Macet

Baca juga: Cabup Sidoarjo Kelana Aprilianto Dengarkan Curhat Warga, Diskusi dan Beberkan 100 Hari Kerja Pertama

Baca juga: Ibu Rizky Billar Manut Kata Anak Soal Nikah, Rizky Billar dan Lesty Gelagapan, Rosmala: Nurut Aja

Spanduk-spanduk tersebut telah mengalihkan fokus masyarakat Banyuwangi menjelang Pilkada, dari yang seharusnya adu visi-misi dan adu program kerja menjadi serangan pribadi yang tak ada relevansinya dengan program kerja. Inilah kampanye hitam alias black campaign yang hanya menghantam sisi pribadi yang tak ada kaitannya dengan adu visi-misi dalam sebuah ajang demokrasi.

Alif sangat menyayangkan dengan keberadaan spanduk tersebut. Menurut Alif, harusnya Pilkada ini bisa menjadi pesta demokrasi yang menyenangkan tanpa menjelek-jelekkan calon.

"Kampanye seperti itu sudah tidak etis. Zaman sekarang masih pakai cara-cara kuno seperti itu," katanya kepada TribunJatim.com.

“Kalau harapan kami sebagai warga kalau bisa itu Pilkada ini yang menyenangkan, adu program gitu lho, ke depan calon bupati itu mau laksanakan visi-misi apa, bukan serangan pribadi yang merusak,” kata Abda Alif. (Haorrahman/Tribunjatim.com)

Penulis: Haorrahman
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved