Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Sanan di Malang Sampai Bikin Inovasi untuk Tingkatkan Omset

Naiknya harga kedelai impor membuat pelaku usaha tempe di daerah Sanan, Kota Malang menjerit.

Penulis: Rifki Edgar | Editor: Pipin Tri Anjani
SURYA/Rifky Edgar
Djumadi (40), produsen tempe asal Sanan. 

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Naiknya harga kedelai impor membuat pelaku usaha tempe di daerah Sanan, Kota Malang menjerit. Hal tersebut membuat omset penjualan mereka menurun drastis.

Seperti yang dialami oleh Djumadi (40), produsen tempe asal Sanan ini mengaku bahwa naiknya kedelai impor membuat penghasilannya menurun.

Dia tidak bisa meraih untung lebih banyak, dikarenakan, harga jual tempe yang berada di pasaran tetap sama.

"Kalau kita mau naikkan harga tempe, penjual yang lain harusnya naik juga. Tapi di sini (Sanan) tidak ada yang mau. Jadinya harganya tetap sama dan penghasilan saya yang berkurang," ucapnya, Minggu (3/1).

Pria yang sejak tahun 90 an menjadi produsen tempe itu mengaku, bahwa harga kedelai impor asal Amerika kini mencapai Rp 9.200 dari Rp 7.000 per Kilogramnya.

Baca juga: Pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo Overload, Pasien Tunggu Giliran Dapat Kamar

Baca juga: Gagal Nyalip, Pengendara Motor di Tuban Tabrak Ban Belakang Truk Trailer dan Tewas di Lokasi

Selain rasanya yang enak, kedelai impor dipilih Djumadi karena memiliki ukuran yang lebih besar dan tidak basi.

Hal tersebut berbeda dengan kedelai lokal yang memiliki ukuran lebih kecil, namun lebih cepat basi saat diolah.

"Kedelai lokal itu kecil. Lebih enak jika diolah menjadi tahu. Beda dengan tempe. Nah sekarang kedelai impor yang mahal. Jadi kita yang aga kesusahan," terangnya.

Guna menaikkan omset penjualan itu, Djumadi kemudian berinovasi untuk membuat tempe dengan beragam varian rasa. Inovasi tersebut dilakukannya untuk menambah omset penghasilannya.

Jika biasanya per 200 gram tempe biasa dia jual senilai Rp 2.000. Dengan tempe rasa ini, Djumadi mampu menjual senilai Rp 4.000.

Tempe rasa tersebut diproduksinya sendiri di rumah, setelah sebelumnya Djumadi melakukan riset di Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Kedelai yang terletak di Kabupaten Malang.

"Jadi tempe rasa yang saya buat ini telah kami olah dan kami beri bumbu. Pembeli nanti tinggal menggorengnya saja di rumah. Dengan inovasi ini saya bisa menambah omset penghasilan saya," ucapnya.

Djumadi mengatakan, tempe rasa produksinya yang diberi nama Snack Asli Sanan (SAS) itu hanya ada satu di daerahnya yang merupakan sentra produksi tempe di Kota Malang.

Tempe rasa tersebut hanya dipasarkan di toko-toko penjualan tempe yang ada di daerah sanan saja. Dengan masing-masing toko dijatah dua bungkus per hari.

Baca juga: Rizky Billar Meracau Cium Tangan Cewek, Sohib Pacar Lesty Kejora Terbangun Rasakan Kecupan: Apaan

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved