Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Kiai Kok Suruh Mikir Jalan, Filosofi Hidup Gus Baha

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' yang lahir di Sarang 15 Maret 1970 , Rembang, Jawa Tengah ini adalah salah satu

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha Saat berbincang dengan Gus Firjaun (Wakil Bupati Jember) terpilih juga bersama penulis 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - "Aku Kyai kok kongkon mikir dalan (Saya Kiai kok disuruh mikir jalan)," kata Gus Baha' sambil berkelakar.

Itulah kutipan atau  ucapan Gus Baha' saat sopir kebingungan mencari masjid, agar Gus Baha' bisa istirahat sebelum mengisi acara di Pasuruan, saat acara Haul KH Hamid setahun lalu .

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha' yang lahir di Sarang 15 Maret 1970 , Rembang, Jawa Tengah ini adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang pengajiannya sering viral dan menjadi trending di Youtube.

Bahkan Gus Baha merupakan pribadi yang sangat sederhana. Dalam kesehariannya, Gus Baha jauh dari kemewahan. Dalam menjalani kehidupannya, Gus Baha' mempunyai beberapa Filosofi Hidup.

"Posisi apapun sama sekali bukan tujuan. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak kenal orang juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah. Tidak dihormati juga tidak masalah. Justru bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai."

"Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa aja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja."

"Hidup ndak usah dibuat sulit, nggak usah ruwet, asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup."

Hal itu bisa disaksikan penulis sendiri saat mendampingi Gus Baha.

 Gus Baha hanya memakai sarung biasa tidak bermerk, disaku hanya ada dua bulpoint, tidak merokok serta sangat menyukai kopi hitam yang kental. Bahkan banjunya selalu memakai warna putih kesukaannya.

Baca juga: Ketika Gus Baha Ditemui Habib Sholeh Tanggul Jember, Rombongan Hanya Bisa Berdiam

Baca juga: Demokrat : Figur di KSP Diduga Ingin Ambil Alih Kepemimpinan AHY Untuk Nyapres 2024

Baca juga: Akar Masalah Celine dan Stefan William Terkuak, Beda Karakter Hidup? Sudah Diprediksi 2 Tahun Lalu

Gus Baha' dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an, namun tetap membumi alias hidup sederhana.

Kesederhanaan Gus Baha' dibuktikan saat beliau berangkat ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya.

Gus Baha' berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus kelas ekonomi. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Setelah menikah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha' mencoba hidup mandiri dan menetap di Yogyakarta. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecilnya.

Bahkan setiap kali mengisi pengajian di Jawa Timur, seperti di Jember, Situbondo, Kediri, Surabaya maupun di Sidoarjo, Gus Baha' bisa dipastikan dari Rembang menumpang bus umum menuju terminal Purabaya Surabaya.

Di Terminal Bungurasih (Purabaya) inilah Gus Baha' dijemput oleh pengikut setianya atau pendampingnya, yakni Muhaimin alias Cak Muhaimin, biasa penulis memanggilnya.

Bahkan Gus Baha' juga memanggil  Pak Muhaimin dengan sebutan Cak Imin.

Sumber: Tribun Jatim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved