Breaking News:

Berkarib Kebisingan Jalanan Wonokromo, Kisah Kakek 3 Cucu Selama 46 Tahun Tekuni Reparasi Jam Tangan

Deru mesin kendaraan bertalu-talu yang melintas berkelebatan di depan lapak reparasi jam tangan milik Arif (64) di bahu Jalan Wonokromo, Wonokromo

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Luhur Pambudi
Kisah Arif, pereparasi jam tangan di Wonokromo, Surabaya 

Pria kelahiran Bangkalan, Pulau Madura itu mengaku telah memulai pekerjaan itu sejak tahun 1975. Saat itu, ia masih remaja, berusia kisaran 18 tahun.

Keinginan memperoleh kehidupan yang lebih baik guna membantu perekonomian keluarganya di Madura, seperti menggerakkan Arif kecil, waktu itu, untuk merantau ke Kota Pahlawan, dan milih tinggal di kawasan Wonokromo, Surabaya.

Tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa dilakoni Arif. Pekerjaan di jaman dahulu, tak seperti jaman sekarang, yang membutuhkan legalitas ijazah. 

Meskipun pekerjaan itu terbilang berat, dan peluangnya kecil. Asalkan ada kemauan yang dibungkus tekad, keberuntungan senantiasa mengikuti.

Itulah yang menyebabkan Arif mulai menekuni bisnis penyedia jasa reparasi dan jual-beli jam tangan.

Kemampuan mengutak-atik perangkat jam tangan itu diperolehnya, secara otodidak. 

Kegemarannya membongkar dan merakit komponen-komponen mesin sejak masih tinggal di Bangkalan, tak menyulitkan Arif belajar sedikit demi sedikit mengenal konsep sistem mesin jam tangan yang mungil.

Karena ketekunannya selama puluhan tahun menggeluti jasa reparasi jam tangan, membuat Arif mampu memperbaiki segala jenis dan bentuk jam tangan.

Mulai dari jam tangan digital yang populer seperti sekarang, ataupun jam tangan manual model jadul yang pernah populer di zaman dahulu.

"Kalau manual, jarang bisa. Karena sekarang otomatis. Anak-anak (tukang jam) sekarang jarang bisa. Spesialis jam manual," tuturnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved