Piala Dunia 2022
MIRIS, Media Inggris Sebut Ribuan Nyawa Pekerja Melayang untuk Persiapan Piala Dunia 2022 Qatar
Dalam 10 tahun belakangan, tercatat ada 12 pekerja imigran dari Asia Selatan meninggal dunia setiap minggunya dalam mempersiapkan Piala Dunia 2022
Editor: Taufiqur Rochman
TRIBUNJATIM.COM - Kabar mengejutkan datang dari persiapan Piala Dunia 2022 Qatar.
Menurut laporan media Inggris, The Guardian, dalam 10 tahun belakangan, tercatat ada 12 pekerja imigran dari Asia Selatan yang meninggal dunia setiap minggunya dalam mempersiapkan Piala Dunia 2022 yang akan diadakan di Qatar.
FIFA resmi menunjuk Qatar sebagai tuan rumah event terakbar sepak bola, Piala Dunia 2022.
Qatar berhasil menyingkirkan negara-negara besar lainnya seperti, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Australia dalam pengajuan tuan rumah tersebut.
Seusai ditunjuk sebagai tuan rumah, Qatar langsung gaspol dalam melakukan pembangunan infrastrukturnya.
Tak main-main, berbagai proyek besar seperti pembangunan tujuh stadion baru, bandara, sistem transportasi umum, hotel, dan lain-lainnya dibangun dalam rangka persiapan Piala Dunia 2022.
Namun, persiapan Piala Dunia 2022 yang dilakukan oleh Qatar tersebut diliputi oleh kabar duka.
Dilansir Superball.id dari The Guardian, dalam 10 tahun belakangan, tercatat ada 12 pekerja imigran dari Asia Selatan yang meninggal dunia setiap minggunya.
The Guardian mengabarkan data dari India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka mengungkap adanya 5.927 kematian pekerjanya di Qatar pada 2011-2020.
Selain itu, data dari Kedutaan Besar Pakistan di Qatar melaporkan adanya 824 kematian pekerja asal Pakistan antara 2010 hingga 2020.
Angka kematian itu bukan tidak mungkin akan lebih tinggi lagi karena masih belum mencakup negara lain yang juga mengirimkan pekerjanya ke Qatar.
Selain itu, data kematian di akhir tahun 2020 juga belum termasuk dalam catatan tersebut.
Nick McGeehan, direktur proyek FairSquare yang mengadvokasi para pekerja dalam proyek tersebut, mengungkap adanya kemungkinan untuk masih ada kematian pekerja yang belum tercatat.
Belum tercatatnya kematian tersebut dirasa terjadi karena catatan kematian tidak dikategorisasikan berdasar tempat kerja atau pekerjannya.