Warga Kampung Miliarder Ramai-ramai Beli Mobil, Bupati Tuban: Yang Dibelikan Sebagian Kecil
Bupati Tuban, Fathul Huda menanggapi warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, yang viral atas aksi borong mobil bersama-sama
Penulis: M Sudarsono | Editor: Januar
Reporter: M Sudarsono | Editor: Januar AS
TRIBUNJATIM.COM, TUBAN - Bupati Tuban, Fathul Huda menanggapi warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, yang viral atas aksi borong mobil bersama-sama.
Warga sekitar menjadi miliarder setelah mendapat ganti untung pembebasan lahan dari Pertamina.
Tanah warga dijual untuk kilang Minyak Grass Root Refinery (GRR), patungan Pertamina-Rosneft asal Rusia.
"Yang dibelikan mobil hanya sebagian kecil atas apa yang didapat dari jual lahan," kata Bupati, Rabu (24/2/2021).
Mantan Ketua PCNU Tuban itu menjelaskan, tidak ada yang salah masyarakat yang mendapat uang hasil jual lahan sebagian digunakan untuk beli mobil.
Baca juga: Terima 1.760 Vaksin Covid-19, Vaksinasi Tahap 2 Segera Digelar di Kabupaten Sumenep
Terpenting harus ada kalkulasi untuk hitungan ekonomi.
Orang nomor satu di Tuban itu tahu persis warga di kampung miliarder, selain beli mobil ada yang digunakan untuk beli tanah dan deposito juga.
"Boleh saja beli mobil, tidak masalah. Saya pernah sampaikan kepada stakeholder untuk memberikan pendampingan, jika saya diminta saya juga siap," ungkapnya.
Kisah para miliarder baru ini terkuak usai video viral belasan mobil baru yang diangkut menggunakan truk towing tiba di desa setempat, Minggu (14/2/2021), sore.
Kepala Desa Sumurgeneng, Gihanto menyatakan, hingga kini sejak pencairan penjualan tanah warga untuk proyek kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) Pertamina-Rosneft asal Rusia, sudah ada 176 mobil baru yang dibeli.
Mobil yang dibeli warga itupun berbagai macam jenis, seperti kijang Innova, Honda HR-V, Fortuner, Pajero dan Honda Jazz.
"Sudah ada 176 mobil baru yang datang, itu tidak langsung bersamaan, yang datang bareng ya 17 mobil minggu kemarin," ujarnya.
Kades menambahkan, ada 840 KK warga di desanya, namun yang lahannya dibeli perusahaan plat merah sekitar 225 KK.
Harga yang diterima warga untuk penjualan tanah per meter mulai dari Rp 600-800 ribu. Sehingga penjualan yang didapat warga rata-rata mencapai miliaran rupiah.
Untuk penjualan tanah paling sedikit Rp 36 juta, paling banyak warga sini Rp 26 miliar, sedangkan ada warga luar mendapat Rp 28 miliar.
"Kalau rata-rata Rp 8 miliar, satu rumah ada yang beli 2-3 mobil. Sisanya buat beli tanah lagi, tabungan, bangun rumah dan usaha," pungkasnya.
Sekadar diketahui, lahan warga dihargai apraisal Rp 600-800 ribu per meter, menyesuaikan lokasi.
Kebutuhan lahan untuk pembangunan kilang minyak GRR seluas 821 hektar. Rinciannya, lahan warga 384 hektar di Desa Sumurgeneng, Kaliuntu dan Wadung, KLHK 328 hektar dan Perhutani 109 hektar.
Investasi kilang minyak dengan nilai 16 miliar USD atau setara 225 triliun itu rencananya akan beroperasi di 2026.
Kilang GRR ditarget mampu produksi 300 ribu barel per hari.(nok)