Dari Kegemaran Membaca Komik, Galih Menjadi Komikus Yang Diminati Klien Luar Negeri

Nanda Reza Andika (29) menginisiasi lahirnya rumah kreatif Crealif, di Perumahan Kepatihan Regency Tulungagung, enam tahun lalu.

Penulis: David Yohanes | Editor: Yoni Iskandar
david yohanes/surya
Galih Rezan(paling kiri) bersama tim kreatif dari rumah kreatif Crealif Tulungagung. 

Reporter : David Yohanes | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Nanda Reza Andika (29) menginisiasi lahirnya rumah kreatif Crealif, di Perumahan Kepatihan Regency Tulungagung, enam tahun lalu.

Nanda punya keahlian membuat desain logo, kemudian mengumpulkan teman-temannya yang punya kreativitas berbeda.

Ada komikus, fotografi, video editing hingga desain interior.

Di rumah kreatif ini, Galih Lintang Sathu (29) muncul menjadi komikus lepas dengan pangsa pasar luar negeri.

Kreativitasnya banyak diminati konsumen dari Eropa, Afrika hingga Amerika Serikat.

“Jadi mereka pesan ke saya, kemudian saya buatkan dengan bayar lepas. Jadi karya saya bisa digunakan sesuai kebutuhan pemesan,” ujar Galih.

Baca juga: Wajah Gebetan Kaesang Kerap Jadi Sorotan, Foto Lawas Nadya Arifta Bocor, Disebut Secantik Pevita

Baca juga: Tangis Calon Suami Resa di Telpon Sudah Takdir, Tunangan Tewas Laka Maut Bus, Impian Nikah Kandas

Baca juga: Menanggapi Aspirasi PKL, Gus Ipul Kirim Surat ke Gubernur

Biasanya konsumen hanya memberikan skrip dan definisi karakter yang diinginkan.

Galih kemudian membaca dan mencermati setiap detail cerita, serta penggambaran setiap tokohnya.

Selebihnya Galih menggunakan imajinasinya untuk menciptakan karakter setiap tokoh.

“Kemudian saya sket satu per satu, kemudian saya kirim ke pemesan. Biasanya ada revisi, misalnya panjang rambut, pakaian dan sebagainya,” tutur Galih kepada TribunJatim.com.

Jika resvisi akhir telah disetujui, Galih mengerjakan komik secara lengkap.

Kebanyakan komik yang dipesan berupa hanya cerita.

Belum ada pemesan yang menginginkan komik dengan cerita panjang dan bersambung.

“Bahkan saya pernah menerima order komik hanya satu lembar. Setelah saya tanya, ternyata untuk hadiah,” kenang Galih.

Pesanan terbanyak datang dari benua Afrika.

Karakter yang dipilih rata-rata tokoh utamanya berkulit hitam, seperti tentara yang tangguh.

Untuk harga, Galih menetapkan berdasarkan gambar per lembarnya.

“Satu lembar hitam putih sekitar Rp 250.000, kalau yang sudah diwarnai sekalian Rp 350.000-Rp 400.000 per lembar,” ungkap Galih.

Selain pesanan dengan karanter barat, Galih juga kerap menerima pesanan komik bergaya Jepang atau manga.

Bahkan ia diminta membuatkan komik dengan karakter seksi.

Keahlian menggambar komik ini didapat secara otodidak.

Sarjana hukum jebolan Universitas Air Langga ini gemar membaca komik sejak anak-anak.

Dari kegemarannya itu, muncul keinginan untuk menggambar komik sendiri.

Keahlian itu terus diasah, hingga dikomersialkan dan mencapai puncaknya saat bergabung di Crealif.

“Konsepnya freelance, jadi mereka pesan kemudian saya buatkan. Tidak ada ikatan lagi saya dengan karya yang sudah dibuat,” pungkas Galih kepada TribunJatim.com.

Meski banjir pesanan komik dari luar negeri, Galih selektif memilih klien.

Sebab di awal usahanya, ia kerap ditipu dan tidak dibayar.

Berbekal pengalamannya, kini Galih sudah bisa mengetahui kesungguhan klien sejak awal mereka komunikasi lewat chating.

“Ada yang minta komik sekian halaman tapi bayarannya sangat murah, pasti tidak serius. Yang begitu langsung ditolak,” tandasnya kepada TribunJatim.com. 

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved