Breaking News:

Air Bah di Magetan Seperti 'Dipelihara, Era Lalu Tidak Ada Banjir dari Lereng Gunung

Setiap hujan datang, Jalan Sukowati depan Kantor Samsat Kota Magetan sampai terminal Magetan sekitar satu kilometer pasti digenangi air bah (banjir),

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Yoni Iskandar
Surya/ Doni Prasetyo
Air bah selalu menggenang setiap hujan datang di Jalan Sukowati Magetan. Tidak hanya berarus kuat, tapi juga airnya dalam, akibatnya banyak fasilitas umum bernilai ratusan juta rupiah rusak. 

Reporter : Doni Prasetyo | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Setiap hujan datang, Jalan Sukowati depan Kantor Samsat Magetan sampai terminal Magetan sekitar satu kilometer pasti digenangi air bah (banjir), selain arusnya kuat, air yang menggeng juga dalam, akibatnya banyak fasilitas umum (fasum) bernilai ratusan juta rupiah rusak.

Banyak sepeda motor pengguna jalan yang terserat arus kuat air bah ini. Meski tidak sampai terjadi korban jiwa, namun sempat membuat warga di sepanjang jalan itu yang histeris melihat derasnya air bah yang datang dari wilayah atas.

"Saya juga tidak tahu, disebelah Timur ada saluran air. Tapi air yang datang dari atas tidak masuk ke saluran air, sehingga jadi air bah dan selalu menggenang didepan Samsat sampai terminal, sekitar satu kilometer," kata Kasat Lantas Polres Magetan AKP Jumianto Nugroho, yang datang ikut mengamankan pengguna jalan, kepada Surya, Jumat (12/3) petang.

Air bah, lanjut AKP Jumianto Nugroho, yang berarus kuat hingga merusak fasilitas umum ini sudah sejak lama selalu berulang terjadi, namun sepertinya DPU PR Kabupaten Magetan, tidak bisa mengatasi banjir air bah setiap hujan turun ini.

"Setiap turun hujan, saya yang ketar ketir hati saya.Bagaimana tidak, banjir bah dengan arus kuat ini merusak semuanya. Tidak hanya fasum, tapi jalan paving di halaman kator pasti banyak yang tercerabut dari tempatnya," kata AKP Jumianto Nugroho.

Baca juga: Oppo Find X3 Pro Resmi Diluncurkan, Smartphone Pertama di Dunia Dengan Dua Keunggulan

Baca juga: Nikita Mirzani Senang Rumah Dipo Latief Disatroni Polisi, Desak Gerebek Geng Motor Mantan Suami Juga

Baca juga: BERITA TERPOPULER SELEB: Dude Harlino Tahan Malu Soal Alyssa hingga Nadya Arifta Dibayar Kaesang

Sementara warga pengguna jalan yang menganggap banjir bandang atau air bah ini, menduga sengaja dipelihara pejabat di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menangani masalah fasum ini. Karena jika air bah datang dengan arus kuat, pasti akan merusak fasum, seperti sekarang ini baru yang terlihat median (pemisah fisik jalur lalu lintas) jalan dan aspal jalan.

"Ini air bah ini seperti disengaja. Ya hanya ini ini aja. Tiapa kali ada perbaikkan, tapi nyatanya tetap saja. Buat saluran air kok kedalam 50 centimeter. Jelas gk muat, padahal mereka semua yang merencanakan insinyur (S1) dibidangnya," kata pengguna jalan yang tidak mau menyebut identitasnya ini kepada Surya di tempat kejadian Air Bah, Jumat (12/3) petang.

Dikatakannya, banyak orang menduga duga banjir ini seperti dipelihara. Karena hujan turun, air bah dengan arus kuat datang, fasum, aspal jalan pasti rusak. Belum talud talud yang kualitasnya memang dibuat gampang ambrol, dan itu kerusakan fisik ini, pastinya proyek dengan anggaran ratusan juta rupiah.

"Saya ini pernah jadi pegawai. Air bah ini seperti dipelihara. Kalau gk ada fasum yang rusak, kapan ada proyek. Kalau dalam seminggu rusak bisa berkali kali. Kan lumayan. Belum kering Proyek kualitas rendah, hujan turun dan air bah arus kuat datang, rusak lagi. Proyek lagi dan anggaran ratusan juta rupiah lagi. Kalau ahli Magetan tidak bisa, datangkan ahli dari luar," katanya, masuk akal juga kepada TribunJatim.com.

Mudah mudahan banyak warga masyarakat yang memviralkan air bah ini ke berbagai media sosial (medsos), Bupati Magetan Suprawoto tahu dan bisa bongkar kelakuan perangkatnya. Kalau perlu awasi sendiri pengerjaan proyeknya, seperti dilakukan presiden Jokowi yang blusukan masuk ke got.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved