Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Wabah Virus Corona, Jangan Takut dan Gelisah Berlebihan

K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
jatim.nu.or.id
Gus Baha atau yang kerap disebut kiai kekinian. 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Gus Baha dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, KH Maimoen Zubair.

RAIS Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, mengingatkan agar umat Islam tidak gelisah dan takut yang berlebihan dalam menghadapi wabah virus corona. Di sisi lain, Gus Baha juga mengingatkan agar seimbang dalam menyikapi Covid-19 ini.

"Saya berharap selain kita ikhtiar medis, kita harus memperbanyak istighfar . Bagaimana pun semua itu dari Allah subhanahu wa ta'ala," kata Gus Baha. "Kita menghormati negara dengan ikhtiarnya, tapi saya mohon sekali kita juga istighfar karena semua itu ditentukan oleh Allah," katanya di sela-sela mengisi acara haul ke-30 KH Ahmad Siddiq di Pesantren Assidiqi Putra Jember, Jawa Timur.

Dalam menyikapi virus Corona, menurut Gus Baha, sebagai seorang muslim, harus memiliki keyakinan bahwa ajal manusia sudah ditentukan oleh Allah. Dalam hal ini, Gus Baha memberi contoh tentang kisah Sayyidina Ali.

“ Sayyidina Ali itu pernah dalam ancaman pembunuhan. Karena beliau musuhnya banyak. Jika mau salat, Sayyidina Ali ya tetep biasa salat. Tanpa dikawal,” tuturnya.

Baca juga: ASN Lamongan Tanggalkan Seragam Resmi, Minggu Pertama Tiap Bulan Wajib BKL

Baca juga: Gus Baha : Umat Muslim Harus Yakin Masuk Surga, Ini Kuncinya

Baca juga: Gus Baha : Kiai Sehari Manggung Tiga Kali, Pasti Bicaranya Standar, Itu-Itu Saja

Gus Baha lalu menjelaskan ketika Sayyidina Ali ditanya kenapa tidak takut kematian, padahal yang ingin membunuh banyak.

“Jawabnya Sayyidina Ali itu unik, Khisny Ajaly. Saya masih hafal ta’birnya. Khisny utawi benteng ingsun (Khisny atau benteng saya). Iku ajaly, jatah ajal,” ujarnya.

Menurut Gus Baha, kisah tentang Sayyidina Ali tersebut menjadi prinsip bagi kita sebagai seorang muslim agar tidak terlalu gelisah dan takut yang berlebihan.

Karena semua manusia sudah memiliki jatah kematian. Namun demikian, sebagai manusia yang diharuskan berikhtiar atau berusaha, wajib pula melakukan upaya agar terhindar dari wabah.

Maksudnya, bukan berarti ketika yakin dan pasrah kepada takdir, lantas lalai, acuh tak acuh dan sembarangan membiarkan wabah itu terus menyebar dan sampai menjadi mudharat bagi kita. Selain yakin pada takdir juga harus diiringi dengan ikhtiar.

Sebagaimana Gus Baha menyampaikan, “Tapi bukan berarti kamu nggak berusaha. Ya usahalah. Memakai masker, tapi nggak usah diimani berlebihan."

Bahagia Jadi Miskin

"Sekarang kalau masih miskin, Berbahagialah. Karena miskin itu mudah jadi orang dermawan. Kalau orang sudah kaya itu ribet," kata Gus Baha.

Menurut Gus Baha yang kelahiran 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini tentang keloyalan seorang santri kepada gurunya atau Kiainya.

"Coba misalnya anda jadi santri saya. Tak contohkan, biasanya santri kalau sama kiainya kan loyal.

"Kamu miskin punya ayam 2. Saya minta satu boleh nggak..? Boleh.," kata Gus Baha.

Gus Bahak melanjutkan, padahal ayam itu kalau dihitung hanya 50 persen.

"Terus punya uang 100 ribu. Saya minta 50 ribu, kira-kira boleh nggak..? Boleh.! Padahal itu 50 persen. Tapi kalau kamu kaya, punya uang 1 milyar. Saya minta 500 juta, boleh nggak kira-kira..? pasti berat.!
Padahal itu 50 persen. Gampang mana dermawannya orang kaya dengan orang miskin untuk beramal 50 persen? jelasn Gus Baha.

Selain Gus Baha juga mencontohkan seorang mahasiswa yang tergolong pas-pas dalam melangsungkan studinya.

"Itu mahasiswa yang masih miskin-miskin, uangnya hanya 100 ribu. Mentraktir temannya..Habis, nggak masalah. Padahal itu berarti 100 persen. Uangnya 50 ribu, diminta temannya, dikasihkan semua. Padahal itu aset satu-satunya. Tak masalah saat ini kamu miskin bisa jadi itu alasan Allah kelak memasukanmu ke Surga," jelas santri kesayangan kiai Maimoen Zubair atau Mbah Moen.

Berita tentang Gus Baha

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved