Ngaji Gus Baha

Gus Baha : Jadi Dai dan Belajar Agama Tidak Bisa Secara Otodidak, Ini Syaratnya Kata Gus Baha

Benarkah belajar ilmu agama bisa dilakukan tanpa guru ? mengingat zaman sekarang sudah banyak - fasilitas terjemah Al Qur’an, Hadits bahkan kitab- kit

Penulis: Yoni Iskandar | Editor: Yoni Iskandar
Instagram.com/@gusbahaonline
Gus Baha atau Kiai dengan nama asli KH Ahmad Bahauddin Nursalim. 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Benarkah belajar ilmu agama bisa dilakukan tanpa guru ? mengingat zaman sekarang sudah banyak - fasilitas terjemah Al Qur’an, Hadits bahkan kitab- kitab para ulama.

Dalam sebuah pengajian Gus Baha mengingatkan pentingnya sanad (transimisi keilmuan) dalam memahami ilmu agama.

Secara bahasa sanad (السند) berarti sandaran. Adapun secara istilah adalah :
سِلْسِلَةُ الرجَالِ الْموصلة لِلْمَتن

Rangkaian para periwayat hadits yang menghubungkan sampai kepada redaksi hadits.

Atau bisa juga didefinisikan :

رَوَاةُ الْحَدِيْث الِّذِيْنَ نَقَلُوْهُ إِلَيْنَا

Para periwayat hadits yang menukilkan (menyampaikan) hadits kepada kita.

Dengan kata lain sanad adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari tingkatan sahabat hingga hadits itu sampai kepada kita.

“Andaikan tidak ada sanad (transmisi keilmuan) maka orang akan berpikir agama sesuai maunya dan itu bahaya sekali,” tegas K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim.

“Karena agama Islam ini riwayat mau tidak mau ngaji itu harus lewat ulama jangan lewat terjemah, karena teks tidak mewakili ahwal,” papar Kiai muda kelahiran Sarang Rembang, Jawa Tengah 15 Maret 1970 ini.

Menurut santri kesayangan KH maomoen Zubair tersebut, Imam Ghozali yang mempunyai kitab Ihya fatwanya seperti itu (masih menyebut sanad,red).

"Lho kok sekarang ada orang yang membaca Ihya hanya lewat terjemah lalu berkoar mewakili Imam Ghozali, atau orang membaca Al Qur’an hanya lewat terjemah lalu membuka majelis tafsir, ini celaka,” lanjut putr KH. Nur Salim ini.

Baca juga: Gus Baha Tolak Bantuan Uang Miliaran Untuk Bangun Pesantren, Ini Alasan Gus Baha

Baca juga: Gus Baha, Anak Marah, Anak Minta Uang Banyak, Itu Cerminan Orang Tua Rakus

Baca juga: 5 Sekolah dan 3 Tempat Ibadah di Blitar Rusak Dampak Pusat Gempa di Malang

Menurut Gus Baha, berdasarkan hadits – hadits berikut ini sangat jelas Rasulullah mengingatkan jika belajar ilmu agama harus melalui seorang guru, dan tidak bisa secara otodidak.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : Wahai manusia, belajarlah ilmu. Karena sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar dan pengetahuan agama hanya diperoleh dengan belajar melalui guru. (Hadits hasan).

Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas Rasulullah SAW bersabda:

من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار

Aritnya : Barangsiapa yang berpendapat mengenai al-Quran dengan pendapatnya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka. (HR Tirmidzi).

Gus Baha Menjalaskan , Jika dahulu para orientalis juga gemar mengutip ayat Al Qur'an dan hadits semaunya karena mereka tidak mempunyai guru.

"Pentingnya transmisi keilmuan ini untuk menjaga keotentikan ajaran agama Islam agar sesuai aslinya dan bersambung kepada sumber utamanya," jelasnya.

“Kenapa kita harus menyebut sanad imam - imam kita, pertanyaannya kamu kok tahu kalau sahabat melakukan itu kata siapa? kata guru saya kan ? kamu tidak bisa langsung mengatakan kata Nabi karna hidup tidak se zaman, kata Nabi itu rawinya siapa ? Imam Bukhari, Imam bukhari itu siapa ? muridnya Imam Syafii, sehingga mau tidak mau kita harus menyebut ulama,” ujar dari suami Ning Winda yang juga masih putra Kiai di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur

“Misalnya kamu ditanya tahu Amerika dari mana? dari TV, wong TV aja kamu jadikan sanad masak Imam Syafi’i tidak. Misalnya sebagai contoh kamu tahu Nabi dari saya dan saya itu muridnya Kyai Maimoen, Kyai Maimoen muridnya Kyai Zubair, Kyai Zubair muridnya Kyai Faqih Maskumambang, Kyai Faqih muridnya Kyai Mahfudh Tremas, Kyai Mahfudh itu Murid Sayyid Abu Bakar Satho' beliau muridnya Sayyid Zaini Dahlan, muridnya Syekh Usman Ad Dimyati terus sampai ke Imam Syafi'i. Kemudian Imam Syafi'i muridnya Imam Malik yang berguru kepada Ibnu Sihab Azzuhri punya guru Imam Nafi' punya guru Abdullah Bin Umar yang bertemu Rasulullah SAW,” tegas Gus Baha.

Menurut Gus baha, seseorang yang alim akan membuat orang-orang mencari tau siapakah bapaknya, siapakah mbahnya. Ketika seorang keturunan tidak alim, orang tidak akan lagi tertarik mencari tau tentang leluhurnya karena dianggap “selesai”.

Keturunan seorang ulama juga adalah orang yang melestarikan sanad keilmuan.

Sanad keilmuan ini harus terus-menerus diulang-ulang sebab jika tidak, kita akan berpikir sendiri untuk menafsirkan sesuatu. Konteks yang ada pada zaman dulu berbeda dengan yang ada pada zaman sekarang.

Suatu tindakan tidak dapat ditafsirkan secara tunggal, harus dengan melihat konteks pada masa itu.

"jadi sangat penting tradisi hujjah dan sanad keilmuan itu. Saya tidak bosan-bosannya belajar (kitab) Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah,” tegasnya.

Kitab Hujjah merupakan salah satu kitab karangan dari KH. Ali Maksum yang berisikan argumentasi-argumentasi paham ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Dalam kitab tersebut, Mbah Ali terkadang memuji dan bersepakat dengan Ibnu Taimiyyah. Namun pada bagian lain, Mbah Ali mengkritik Ibnu Taimiyyah, seperti tentang ziarah kubur.

Dalam kitab tersebut, Mbah Ali pun menuliskan perihal Imam Syafi’i yang selalu ke makam Abu Hanifah untuk tawasul. Padahal Imam Syafi’i acap kali mengkritik Abu Hanifah dalam tatanan Fiqih. Namun Imam Syafi’I tau betul bahwa Abu Hanifah adalah orang yang sangat sholeh. Mengenai hal ini, Gus Baha’ berpesan agar santri tidak hanya mengkaji kitab-kitab Fiqih. Kalau hanya mengaji dan mengkaji Fiqih, Abu Hanifah seolah-olah sangat tidak ahli hadits.

Dengan mempelajari kitab Hujjah, kita menjadi tahu di balik banyaknya kritik yang dilakukan oleh Imam Syafi’i, beliau ternyata sangat hormat pada Abu Hanifah. Jika menilik pada kitab-kitab kewalian, Abu Hanifah adalah orang yang sangat mukasyafah. Beliau dapat mengetahui dosa-dosa yang diperbuat seseorang ketika melihat air wudlu yang jatuh dari orang tersebut.

Berita tentang Ngaji Gus Baha

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved