Ironi Kemeriahan di Kota Milan dan Manchester, Pesta Sesungguhnya Vs 'Pesta Abal-abal'
Ada ironi kemeriahan yang terjadi di Manchester dan Milan. Milan meraih karena pesta Inter Milan scudetto, Manchester meriah karena demo suporter
Editor: Taufiqur Rochman
TRIBUNJATIM.COM - Dua kisah kontradiktif terjadi di Kota Manchester dan Milan pada Minggu (2/5/2021) malam waktu Indonesia.
Pasalnya, keramaian yang terjadi sungguh berbanding terbalik.
Iya, selepas pertandingan Sassuolo versus Atalanta di Liga Italia, para pendukung Inter Milan beramai-ramai turun ke jalan.
Sebab, klub kebanggaan mereka sudah menyegel gelar juara Serie A ketika kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Italia menyisakan empat laga.
Hasil Sassuolo versus Atalanta yang membuat Inter tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengakhiri penantian selama 11 tahun guna meraih scudetto.
Atalanta, yang menjadi pesaing terdekat Inter, hanya mampu bermain imbang 1-1.
Dengan demikian, Inter unggul 13 poin atas sang rival sehingga posisi mereka takkan mungkin tergoyahkan lantaran Serie A menyisakan tiga laga.
Ya, jumlah pertandingan tersebut hanya menyediakan maksimal 12 poin.
Artinya, Inter tetap unggul satu angka meski kalah dalam semua laga tersisa dan Atalanta menyapu bersih selusin poin itu.
Gelar ini menjadi yang ke-19 bagi Inter sepanjang sejarah klub berjulukan Nerazzurri tersebut.
Lebih dari itu, mereka mengakhiri dominasi Juventus yang dalam sembilan musim terakhir selalu jadi juara.
Wajar bila Internisti turun ke jalan-jalan di Kota Milan untuk melakukan pesta.
Mereka merayakan kesuksesan timnya yang sempat bersaing ketat dengan rival sekota, AC Milan, pada awal musim 2020-2021 ini.
Lantas, bagaimana dengan suasana di Kota Manchester? Di sana pun terjadi kemeriahan tetapi bukan pesta melainkan unjuk rasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/para-suporter-inter-milan-melakukan-selebrasi-di-piazza-duomo-milan.jpg)