Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Hari Raya Idul Fitri 2021

Puasa Qadha atau Syawal Dulu? Berikut Penjelasan Hukumnya, Lengkap Jadwal Puasa Syawal 1442 H/2021

Setelah puasa Ramadan usai dilanjut puasa Syawal. Lantas sebenarnya lebih didahulukan mana puasa Syawal atau puasa Qadha?

Ajmer Sharif Dargah – Khwaja Gharib Nawaz
ILUSTRASI Manakah yang lebih didahulukan, puasa Qadha atau puasa Syawal? 

Editor: Arie Noer Rachmawati

TRIBUNJATIM.COM - Setelah puasa Ramadan usai dilanjut puasa Syawal.

Lantas sebenarnya lebih didahulukan mana puasa Syawal atau puasa Qadha?

Dilansir dari TribunnewsMaker 'Puasa Syawal 6 Hari Dulu / Puasa Qadha? Ini yang Lebih Diutamakan, Lengkap dengan Dalil Hadisnya',

Adapun puasa Syawal merupakan puasa sunnah muakad yang pelaksanaannya dianjurkan.

Dianjurkan puasa Syawal ini sebagaimana didasarkan pada hadis Rasulullah SAW.

Baca juga: Puasa Syawal 2021 Dimulai Kapan? Ini Tata Cara dan Niat Puasa 6 Hari Syawal, Ganjaran Setahun Penuh

Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Dari hadis inilah menjadi dalil dasar dianjurkannya puasa enam hari berturut-turut di bulan Syawal yang dipilih Mazhab Syafii.

Bagi Mazhab Maliki dan Mazhab Hanifah dalil hadis tersebut dinyatakan makruh.

Bacaan niat puasa Syawal
Bacaan niat puasa Syawal (Ajmer Sharif Dargah – Khwaja Gharib Nawaz)

Namun, bagi pengikut Mazhab Syafii maka dapat mengerjakan amalan puasa Syawal tersebut.

Adapun perbandingan hukum puasa qadha adalah wajib karena menggantikan puasa Ramadan.

Pelaksanaannya pun tidak ada yang berbeda puasa Ramadan.

Hanya saja, utang puasa atau puasa qadha dilaksanakan sesuai hari yang tak terlaksana saat puasa Ramadan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 184.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberikan makan bagi seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Baca juga: Tata Cara Salat Tahiyatul Masjid, Lengkap Bacaan Niat dan Keutamaan, Amalan Penyempurna Salat Fardu

Pelaksanaannya pun terbilang lebih leluasa selama setahun sebelum datangnya kembali bulan Ramadan tahun berikutnya.

Namun, karena hukumnya wajib dibayar, maka sebaiknya utamakan untuk melaksanakan puasa qadha.

Sementara itu hukum puasa Syawal adalah sunnah.

Demikian mengingat puasa qadha lebih utama dari puasa Syawal, apakah bisa puasa Syawal dikerjakan di hari lain selama di bulan Syawal?

Mana yang lebih utama puasa 6 hari berturut-turut atau terpisah di bulan Syawal ?

Baca juga: Doa Setelah Salat Dhuha dan Tata Caranya, Lengkap Niat Serta Keutamaan, Amalan Sunnah Ramadan 2021

Namun, ada juga pendapat lain yang menyebut puasa Syawal dapat dikerjakan secara terpisah.

Lalu, mana yang utama puasa 6 hari berturut-turut atau terpisah?

Dilansir dari Shahihfiqih, lebih utama puasa 6 hari di bulan Syawal dilakukan secara berturut-turut dan langsung langsung dilakukan setelah hari Idul Fitri (selesai).

Karena demikian hal tersebut merupakan upaya untuk bersegera melakukan kebaikan.

Namun tidak mengapa ditunda permulaan puasanya dari hari kedua bulan Syawal.

Puasa Syawal 1441 H.
Puasa Syawal 1441 H. (Instagram/dzulqarnainms)

Tidak masalah bagi seseorang melakukannya secara terpisah hingga akhir bulan.

Hal ini sebagaimana keumuman sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Dari hadis tersebut tidak mempersyaratkan harus berturut-turut mengerjakan puasa syawal.

Kemudian tidak pula harus langsung setelah Ramadan.

Jadwal Puasa Syawal 1442 H

Adapun jadwal pelaksanaan puasa Syawal ini dikerjakan selama 6 hari berturut-turut sepekan ke depan.

Adapun pelaksanaannya dimulai dari hari kedua atau tanggal 2 Syawal 1442 H - 8 Syawal 1442 H.

Tanggal 2 Syawal 1442 H maka puasa Syawal mulai dikerjakan pada Jumat 14 Mei 2021.

Bacaan Niat Puasa Syawal

Pelaksanaan puasa Syawal sebenarnya tak berbeda dengan puasa sunah lainnya.

Hanya saja yang berbeda ada pada niatnya.

Berikut bacaan niat puasa Syawal

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, "Aku berniat puasa sunah Syawwal esok hari karena Allah SWT."

Bila Anda terlambat untuk berniat di pagi hari, dengan syarat belum makan dan minum, maka niat mengerjakan puasa Syawal masih dianggap sah.

Anda juga dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Syawal pada siang hari.

Berikut ini lafal atau bacaan niat puasa Syawal bila terlambat niat:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

"Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT."

Seperti puasa pada umumnya, Anda bisa berbuka puasa setelah matahari terbenam atau ketika waktu magrib.

Bacaan doa berbuka puasa

Terdapat sebuah hadis shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”

"Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki." (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, nomor 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, nomor 4678)

Ikuti berita Jawa Timur terkini lainnya

Sumber: TribunNewsmaker
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved