Breaking News:

Berita Kediri

Warga Semen Pagu Kediri Protes Bau Menyengat yang Ganggu Belajar Siswa MI, Akibat Limbah Tahu

Warga Dusun Baron Desa Semen Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri menyampaikan protes pembuangan limbah tahu yang menganggu aktivitas masyarakat

TribunJatim.com/ Farid Mukarrom
Limbah tahu di aliran sungai Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri 

Reporter: Farid Mukarrom | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Warga Dusun Baron Desa Semen Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri menyampaikan protes pembuangan limbah tahu yang menganggu aktivitas masyarakat.

Diketahui limbah tahu ini sudah ada sejak 20 tahun lalu. 

Limbah tahu ini mengalir ke sejumlah saluran air milik warga. Akibatnya warga harus merasakan bau menyengat akibat hasil olahan limbah tahu tersebut.

Selain itu limbah tahu ini diketahui juga sudah menganggu aktivitas belajar dari siswa Madrasah Ibtidaiyah A'yunul Huda.

Mahfud salah seorang warga dan Komite sekolah Madrasah Ibtidaiyah mengatakan bahwa aktivitas belajar siswa di tempatnya terganggu dengan adanya limbah ini.

Baca juga: ABG Kediri Tak Sadar Direkam Pria Bejat Saat Mandi, Pelaku Ajukan 1 Syarat Agar Video Tak Viral

"Limbah ini sudah terjadi selama beberapa tahun dan sangat mengganggu lingkungan madrasah dan masjid," ujarnya kepada SURYA Senin (31/5/2021).

Selain itu menurut Mahfud ia bersama warga lainnya sudah mengajukan protes ke pemerintah desa setempat. Tujuannya agar tidak ada limbah tahu ini yang mengganggu warga.
"Tadi sudah ada tindak lanjut dari Desa untuk memberitahu pemilik usaha tahu, agar tidak membuang limbah sembarang," ungkapnya.

Sementara itu Kepala Desa Semen Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Mahpud mengatakan bahwa ia memahami keluhan warga mengenai limbah tahu.

"Tadi sudah ada titik temu dengan warga (Dusun Baron) agar tidak ada pembuangan limbah di saluran air," ungkapnya kepada SURYA di Balai Desa Semen Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri.

Menurut Mahfud untuk tindakan awal sementara ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Babinsa dan Babinkantibmas untuk menutup sementara aktivitas produksi tahu.
"Selanjutnya akan dicarikan solusi dengan mengundang dinas lingkungan hidup, untuk memberikan arahan cara pengelolaan limbah," jelasnya.

Mahpud menjelaskan sebelumnya sudah pernah ada sosialisasi oleh dinas maupun pemerintah Desa mengenai pengelolaan limbah. 

Namun dari total 22 pemilik usaha pembuat limbah, hanya satu yang membuat pengelolaan limbah. Hingga akhirnya pemilik usaha lain yang tak buat itu, limbah tahunya mengalir ke sungai atau saluran air milik warga.

"Mungkin alasan mereka (pemilik usaha tahu) ada yang tak buat ini karena biayanya besar. Namun hal ini jadi perhatian kita untuk segera diselesaikan bersama," tegasnya.

Kumpulan berita Kediri terkini

Penulis: Farid Mukarrom
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved