Breaking News:

Berita Magetan

Sungai Tercemar Limbah, Warga Sebut Kunjungan Kadin DLH Magetan Tidak Merubah Apa pun.

Kunjungan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadin LH) Pemerintah Kabupaten Magetan dan perangkat Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan k

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Ndaru Wijayanto
SURYA/DONI PRASETYO
Kunjungan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ke sungai yang tercemar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari penyamakan kulit ilegal di Desa Mojopurna, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, dianggap warga hanya formalitas, tidak ada pengaruh kunjungannya pada ekosistem yang rusak di desa. 

Reporter: Doni Prasetyo I Editor: Ndaru Wijayanto

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Kunjungan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadin LH) Pemerintah Kabupaten Magetan dan perangkat Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan ke lokasi sungai yang tercemar limbah cair yang diduga kuat mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) itu tidak merubah apapun.

Akibatnya sungai kecil yang selama ini airnya dijadikan petani setempat untuk menyiangi tanaman padi dan berbagai tanaman yang ditanam petani, sejak tiga tahun lalu praktis tidak lagi bisa di manfaatkan untuk mengairi sawah sawah petani di Desa Mojopurno

Bahkan, limbah cair B3 yang dibuang perajin penyamak kulit itu tidak saja menimbulkan kerusakan ekosistem di sekitar sungai kecil, tapi juga mengganggu kesehatan warga setempat karena udara di desa setempat juga ikut terkena polusi. Sehingga banyak warga yang terkena gangguan Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Infeksi Saluran Pernapasan Akut, yang menimbulkan gejala batuk, asma yang saat ini informasinya banyak diderita warga.

Akibat pembuangan limbah cair dari industri penyamakan kulit ilegal yang diduga kuat mengandung B3 itu, selain kerusakan lingkungan juga berpengaruh pada kesehatan warga setempat.

"Warga tidak ingin menghalangi orang berusaha. Tapi kalau membuang air limbah penyamakan kulit, mintanya warga, air limbah itu sudah diolah atau dinetralkan,"kata Hariadi warga Dusun Setugu, Desa Mojopurna, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Senin (21/6/2021)

Permintaan warga, lanjut Hariadi, agar air sungai bekas penyamakan kulit itu bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah sawah warga, seperti digunakan selama ratusan tahun sebelum ada pabrik pabrik ilegal penyamakan kulit itu. Tapi apa, keluhan warga sudah disampai ke instansi berwenang tidak mendapat tanggapan berarti.

"Warga disini sebetulnya tahu siapa siapa yang setiap bulannya keliling.  Mudah mudahan mereka bisa mikir kalau musim kering, selain bau yang mengganggu kesehatan juga nyamuk sangat banyak, kebal Insektisida yang disemprotkan," ujar Hariadi, seraya menambahkan limbah itu selain merusak lingkungan, juga mengganggu kesehatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Magetan Saif Muchklisun, mengaku memang yang menjadi proritasnya (DLH) limbah dari Lingkungan Industri Kecil (LIK) yang melewati tengah Kota Magetan, melalui Kali Gandong.

LIK yang di kelola Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur  itu sudah mempunyai Instalasi Pengolah Air Limbah.(IPAL) dengan kapasitas besar, sehingga limbah yang dibuang ke Kali Gandong tidak pekat dan netral kandungan limbah B3 nya, tidak sepekat yang dibuang penyamak Kulit ilegal Mojopurna.

"Kita prioritas pertama limbah yang dibuang LIK ke Kali Gandong, limbah cair dan polusi udara itu sudah berhasil kami urai. Sehingga masalah masalahnya disana sudah sangat berkurang,"kata Saif Muchklisun.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved