Berita Tulungagung
Operasi Lutut Puluhan Juta, Karyawan Ini Andalkan JKN-KIS
Pernah mengalami cedera ligamen lutut anterior yang istilah medisnya adalah Ruptur ACL (Anterior Cruciate Ligament), Serkiyan Adyaksa Krisi (26) harus
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG– Pernah mengalami cedera ligamen lutut anterior yang istilah medisnya adalah Ruptur ACL (Anterior Cruciate Ligament), Serkiyan Adyaksa Krisi (26) harus menjalani operasi pada tahun 2019 lalu.
Sebelumnya, karyawan salah satu perusahaan swasta yang akrab dipanggil Ekik ini mengalami pembengkakan pada lutut sebelah kanannya. Merasa tidak kunjung membaik, akhirnya ia memutuskan untuk memeriksakan ke FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) menggunakan JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat).
“Kata dokter di faskes pertama itu saya Ruptur ACL, kemudian saya dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Di rumah sakit, oleh dokter spesialis ortho, saya diarahkan untuk MRI.
Ternyata benar saya mengalami Ruptur ACL. Dokter menyarankan untuk segera operasi,” terangnya.
Bersyukur, operasinya berjalan lancar. Ekik mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeser pun dari kantongnya, berkat JKN-KIS.
Seandainya tidak menggunakan JKN-KIS, Ekik memperkirakan biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 45juta sampai dengan Rp 55juta.
“Selama perawatan tidak ada biaya sama sekali. Kalau tidak pakai BPJS biayanya kalau tidak salah sekitar Rp 45juta sampai Rp 55juta. Dokter dan susternya juga cek kondisi saya setiap hari. Setelah operasi, kontrol sampai 3 kali juga dijamin BPJS,” ujarnya.
Meskipun tidak mengeluarkan biaya sama sekali karena dijamin penuh JKN-KIS, Ekik mendapatkan pelayanan kesehatan yang bagus.
Baca juga: Gunakan Sabu Untuk Stamina, Pria Di Kota Malang Ditangkap Satreskoba Polresta Malang Kota
Sejak awal, ia merasa percaya operasi pertama dengan JKN-KIS akan berjalan lancar dan tidak mengecewakan.
“Waktu itu saya tidak naik kelas, tetap di kelas 1. Fasilitasnya bagus ya. Saya tidak pernah berpikiran negatif ketika menggunakan JKN-KIS. Selama saya membayar iuran rutin pasti dapat pelayanan. Saya yakin fasilitas kesehatan juga menjaga, masa dengan program Pemerintah pelayanannya tidak maksimal, sepertinya tidak mungkin.
Kalau kita menanam kebaikan pasti juga akan menuai kebaikan,” pungkasnya.
Seandainya tidak ada JKN-KIS, Ekik mengatakan masyarakat yang ekonominya menengah kebawah pasti akan kesulitan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan dengan biaya tinggi.
Program JKN-KIS dengan prinsip gotong royong, masyarakat tidak hanya seperti menabung, melainkan juga bisa membantu masyarakat lainnya yang sedang sakit.
Menurutnya, melalui Program JKN-KIS, jaminan pelayanan kesehatan sudah aman ditangan Pemerintah.
“Kalau tidak ada BPJS pasti kesulitan masalah finansial, apalagi seperti operasi dengan biaya tinggi. Kalau punya BPJS, misal kelas 3 saja yang paling murah iurannya, setidaknya seperti nabung, kalau suatu saat ada apa-apa tinggal dipakai BPJS-nya. Rasanya seperti sudah dijamin Pemerintah, uang kita aman. Uang yang kita bayarkan setiap bulan juga bisa untuk membantu orang lain,” terangnya.
Ekik mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah telah melahirkan Program JKN-KIS dan BPJS Kesehatan sebagai penyelenggaranya.
Dengan iuran yang terjangkau sudah bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/serkiyan-adyaksa-krisi-26-harus-menjalani-operasi-pada-tahun-2019-lalu.jpg)