Breaking News:

Berita Surabaya

Waspadai Varian Baru, RSLI Kirim Sampel Pasien CT Value Dibawah 15

Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya menyampaikan kondisi terkini jumlah pasien dirawat 148, dengan komposisi 122 orang dari Pekerja Migran

Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Januar
TribunJatim.com, Febrianto aramadhani
Konferensi Pers Rumah Sakit Lapangan Indrapura Surabaya, soal kondisi terkini, Sabtu (11/9/2021) 

Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Febrianto Ramadani

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya menyampaikan kondisi terkini jumlah pasien dirawat 148, dengan komposisi 122 orang dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan 26 orang dari pasien umum atau mandiri.

Laksamana Pertama dr Ahmad Samsulhadi MARS, Penanggung Jawab RSLI, menegaskan, pihaknya tidak pernah mempunyai kewenangan mengumumkan varian baru yang muncul. RSLI tidak pernah mengabarkan adanya varian baru Mu. Tugasnya adalah merawat pasien Covid 19, melakukan tindak lanjut apabila ada yang perlu dicermati, dan melaporkannya kepada pemangku kebijakan dalam hal ini Dinkes Provinsi Jatim dan Gubernur.

“Keberadaan pasien PMI memang menjadi bahan diskusi  yang hangat. Terkait Covid-19 yang kebanyakan diderita oleh mereka adalah masuk dalam Variant of Consequence (VoC) dan karena merupakan pelaku perjalanan internasional maka selain tugas kami merawat, juga sebagai ilmuwan dan profesional di bidang kesehatan. Kami waspada terhadap fenomena yang ada untuk bisa mengumpulkan data dan kami tindaklanjuti dengan penelitian lalu kami sampaikan kepada pihak terkait.” papar dr Samsulhadi, dalam keterangan pers, Sabtu (11/9/2021).

Sejak penanganan PMI, mulai 6 Mei 2021, lanjut dr Samsulhadi, RSLI mendapatkan data yang menarik. Setelah dirawat beberapa hari dan dilakukan swab PCR lanjutan, ternyata banyak sekali dijumpai  hasil CT Value dibawah 25, yakni sebanyak total 879. Dari jumlah tersebut, terdapat 78 dengan jumlah CT Valuenya dibawah 15, 22 orang CT Value antara 5 sampai 10, dan 2 lainnya dibawah 2. 

"Terhadap fenomena ini, sekali lagi kami tidak pernah mengumumkan adanya varian baru. Hanya saja, alangkah sayangnya apabila data data menarik ini lewat begitu saja, sehingga kami sampaikan kepada pihak terkait, termasuk pemerintah untuk ditindaklanjuti," tegasnya.

Baca juga: Kiat Perajin Kain Tenun Ikat di Kediri Bertahan Saat Pandemi Covid-19 

dr. Fauqa Arinil Aulia, Spesialis Patologi Klinis Dokter Penanggung Jawab Pasien RSLI, juga menyampaikan, dari monitoring PCR kelompok PMI sebelum selesai isolasi di RSLI, beberapa kami dapatkan CT Value memang masih rendah menjelang hari ke 14 perawatan. Sebagaimana SOP dari Kemenkes, yakni pelaku perjalanan internasional atau pekerja migran yang tiba di Indonesia, orang dari daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. 

"Area dimana terjadi peningkatan kasus dan kluster penularan yang cepat, orang yang berpartisipasi dalam uji coba vaksin dan atau telah divaksinasi secara lengkap, orang dengan riwayat infeksi dan infeksi ulang, orang dengan gangguan kekebalan tubuh  dan penyakit komorbid, anak anak dengan usia kurang dari 18 tahun pada daerah yang terjadi peningkatan kasus pada anak, orang yang berusia kurang dari 60 tahun gejala klinis parah, tidak memiliki penyakit penyerta, dan kasus positif yang kontak dengan kasus Varian of Concern dan Variant of Interest," jelasnya.

RSLI melakukan pengiriman sampel PMI dengan kondisi khusus tersebut ke TDC Kampus C Unair. Karena PMI adalah pelaku perjalanan luar negeri, maka akan diisolasi 14 hari dan dimonitor dengan swab PCR di awal kedatangan. Jika negatif bisa pulang dan apabila positif akan dirawat hingga 14 hari. Bila tidak ada lagi indikasi klinis, dan komorbid lainnya, bisa pulang. Sedangkan sampel yang khusus, akan tetap dilanjutkan proses penelitiannya. 

"Sejak Mei 2021, kami total sudah mengirimkan 78 sampel, diantaranya yang sudah keluar 1 varian South of Africa, 1 varian UK, 9 Varian Delta, beberapa bulan yang lalu. Sedangkan untuk sebulan terakhir ini belum ada hasil yang dikabarkan.  Sekarang masih berproses.” ungkap dr. Fauqa.

dr. Nevy Shinta Damayanti, Dokter Spesialis Paru RSLI, menambahkan, pintu masuk PMI hanya dua di Indonesia, yakni Jakarta dan Surabaya, keberadaannya perlu dicermati. Semua yang terkonfirmasi positif memang rata rata tanpa gejala (OTG) hingga gejala ringan. Meskipun demikian bagi yang mempunyai komorbid, seperti hipertensi, obesitas, gula darah dan sebagainya perlu diwaspadai.

"Masyarakat jangan lengah, tetap waspada. Penanganan Covid 19 harus lebih ketat, karena saat kembali ke masyarakat,jangan sampai membuat merasa tidak nyaman. Terhadap pasien PMI juga dilakukan edukasi yang tepat, karena terkadang mereka yang dari luar negeri menerima informasi yang simpang siur tentang Covid 19, termasuk masalah aturan karantina," ucapnya.

"Yang jelas mereka dari luar negeri harus benar benar sudah selesai saat akan kembali ke masyarakat, sehingga tidak lagi ada penularan yang massif hingga terjadi Kejadian Luar Biasa. Masyarakat pun hendaknya harus menerapkan kewaspadaan yang sama, harus tetap menyadari akan bahaya covid. Jangan sampai abai," lanjutnya.

dr Nevy juga berharap, jika merasakan gejala klinis, segera lapor ke faskes terdekat, supaya ditangani. Vaksinasi harus jalan terus, sehingga semua aman. Jangan sampai kehilangan satu generasi akibat pandemi ini. 

Kumpulan berita Surabaya terkini

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved