Breaking News:

Berita Sidoarjo

Pengemis, Pengamen dan Anak Jalanan Menjamur di Sidoarjo, Liponsos Sudah Overload

Keberadaan pengemis, pengamen, dan anak jalanan (anjal) di Sidoarjo makin menjamur, Liponsos sudah overload.

Penulis: M Taufik | Editor: Dwi Prastika
via Tribunnews
ILUSTRASI pengemis - Pengemis, Pengamen dan Anak Jalanan Menjamur di Sidoarjo, Liponsos Sudah Overload. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, M Taufik

TRIBUNJATIM.COM, SIDOARJO - Akhir-akhir ini, keberadaan pengemis, pengamen, dan anak jalanan (anjal) di Sidoarjo makin menjamur.

Setiap hari, mereka menyasar warung-warung, perempatan, dan berbagai titik yang kerap menjadi tempat berkumpul masyarakat.

Kondisi itupun banyak dikeluhkan masyarakat.

Bahkan, maraknya pengemis dan anjal beberapa waktu belakangan juga menjadi perhatian anggota dewan yang duduk di Komisi A DPRD Sidoarjo.

"Aturannya sudah jelas, jadi Satpol PP harus segera bertindak. Melakukan penertiban," kata anggota Komisi A DPRD Sidoarjo, Warih Andono, Jumat (8/10/2021).

Dalam Peraturan Daerah (Perda) nomor 10 tahun 2013 tentang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat, di pasal 13 jelas disebutkan bahwa pemerintah daerah dapat menertibkan orang yang meminta-minta di persimpangan jalan dan atau traffic light hingga fasilitas umum.

Pasal 13 ayat 2 menyebut, setiap orang dilarang memberikan bantuan atau dukungan dalam cara apapun yang bisa mengakibatkan keberlangsungan pelanggaran tertib sosial.

"Melihat aturan itu, berarti yang ditertibkan bukan hanya mereka yang meminta-minta. Tapi warga yang memberi juga harusnya tidak dibolehkan," lanjut politisi Partai Golkar tersebut.

Dalam Perda itu juga jelas disebutkan ada sanksinya bagi yang melanggar. Yakni bisa pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta.

Secara terpisah, Kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Sidoarjo, Yani Setiawan mengungkapkan, penertiban pengemis dan anak jalanan sudah mulai dilakukan.

Baca juga: Warga Keluhkan Jembatan Penghubung Waru-Sedati Sidoarjo Rusak, Bolong dan Ditambal Kayu

"Minggu kemarin sudah mulai intens dilakukan penertiban terhadap pengemis dan anjal. Dan kita akan semakin gencar melakukannya, karena kegiatan itu jelas melanggar aturan," kata Yani.

Namun, diakuinya bahwa penertiban terhadap pengemis dan anjal juga memiliki kendala. Salah satunya adalah keterbatasan ruang penampungan di Liponsos.

"Mereka yang terkena razia kan langsung kita bawa ke Liponsos. Nah, kalau ruangnya tidak cukup, repot juga kan," ujar dia.

Liponsos Sidoarjo memang sudah overload. Dari kapasitasnya sekitar 75 orang, saat ini sudah menampung sekitar 90 orang. Ini juga menjadi salah satu PR yang harus segera diselesaikan di Kota Delta.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved