Breaking News:

Berita Probolinggo

Kasus Dugaan Pemotongan Dana PKH di Probolinggo Terus Didalami Polisi

Sejumlah warga Dusun Krajan, Desa Randuputih, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo berbondong-bondong mendatangi Mapolsek Dringu.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Ndaru Wijayanto
SURYA/Danendra Kusuma
Joko Riyadi (40) warga Dusun Krajan RT 6 RW 2, Desa Randuputih, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo menunjukkan bukti rekening koran pencairan dana PKH, Senin (15/11). 

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Sejumlah warga Dusun Krajan, Desa Randuputih, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo, yang juga sebagai penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH), berbondong-bondong mendatangi Mapolsek Dringu.

Mereka dimintai klarifikasi oleh polisi mengenai dugaan pemotongan dana bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH).

Pemotongan tersebut diduga dilakukan oknum ketua kelompok dengan besaran yang bervariasi, mulai Rp 100.000 hingga Rp 500.000. Bahkan, menurut keterangan warga dugaan pemotongan telah dilakukan sedari 2020 hingga sekarang.

Baca juga: Mulai Hari ini, Berikut 8 Target Pelanggaran pada Operasi Zebra Semeru 2021, Termasuk Wajib Helm SNI

Seorang warga Dusun Krajan RT 6 RW 2, Joko Riyadi (40) mengatakan mulanya ia merasa janggal dengan dana PKH yang ia terima.

Pasalnya, nominal dana yang diberikan oknum ketua kelompok tak sesuai dengan jumlah pada rekening koran.

Baca juga: Ada Pengunjung Tak Bertiket Jadi Korban Pohon Tumbang Timpa Warung di Wisata Jolotundo

"Seharusnya saya mendapatkan dana bansos PKH Rp 1.350.000 tiap tiga bulan. Namun, saya hanya mendapatkan Rp 850.000. Saya menduga ada pemotongan," katanya, Senin (15/11/2021).

Lebih lanjut ia menceritakan, pada pencairan tahap pertama, Januari-Maret 2021, tidak ada masalah berarti. Ia mendapat dana bansos PKH Rp 1.350.000.

Baca juga: Berawal dari Anime dan Modal Rp50 Ribu, Pemuda di Banyuwangi Raup Puluhan Juta dari Replika Samurai

Pencairan tahap kedua, April-Juni 2021, justru ia tidak mendapat dana PKH sepeserpun. Menginjak pencairan tahap ketiga, Juli-September, ia hanya mendapat dana PKH Rp 850.000 saja dari total Rp 1.350.000.

"Kartu ATM untuk menarik pencairan dana PKH berada di oknum ketua kelompok. Kami tak menarik sendiri. Tahap ketiga dana PKH saya dipotong Rp 500.000. Padahal saat saya cek langsung di rekening koran pencarian tahap tiga tetap senilai Rp 1.350.000," terangnya.

Ia menyebut, oknum ketua kelompok berdalih meminta kartu ATM agar dana PKH tak salah disalurkan ke bantuan sembako.

Selain itu, jika kartu ATM tak diberikan nantinya kartu ATM bisa diblokir. Oknum ketua kelompok itu tak mau mengurus pembukaan blokir.

"Karena dana PKH dipotong, saya akhirnya berhutang untuk membiayai dua anak yang masih sekolah SD dan SMP. Hak saya diambil. Saya dizalimi. Ini tentu merugikan. Sehari-hari saya bekerja sebagai nelayan, penghasilan tak menentu," ungkapnya.

Sementara, Paur Humas Polres Probolinggo, Bripka Muhtar Yuliarto membenarkan pemanggilan warga Desa Randuputih untuk dimintai klarifikasi di Mapolsek Dringu. Polisi memanggil 20 warga.

"Hari ini, ada 20 warga yang dimintai klarifikasi dugaan dana PKH dipotong oleh ketua kelompoknya. Proses klarifikasi dilakukan di Mapolsek Dringu," ujarnya.

Sebelumnya, warga Desa Randuputih melaporkan dugaan pemotongan dana PKH di Mapolres Probolinggo, Kamis (7/10/2021). Bila ditotal, hingga kini, 30 warga telah dimintai klarifikasi.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved