Breaking News:

Berita Kabupaten Mojokerto

Antisipasi Banjir dan Longsor di Pacet Mojokerto, Perhutani hingga Warga Lakukan Mitigasi Bencana

Antisipasi banjir bandang dan tanah longsor di Wisata Padusan Pacet Mojokerto, Perhutani, TNI/Polri hingga warga lakukan mitigasi bencana.

Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Mohammad Romadoni
Wisata Pemandian Air Panas Padusan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Minggu (21/11/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Mohammad Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Pengelola Wisata Pemandian Air Panas Padusan Pacet Mojokerto melakukan mitigasi bencana guna mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor.

Koordinator Wisata Pemandian Air Panas Padusan Pacet Mojokerto, Heru Utomo mengatakan, mitigasi bencana alam dilakukan terutama di sepanjang aliran sungai dalam hutan yang terhubung ke kawasan pariwisata. Apalagi, banyak batu-batu besar dan pohon tumbang yang menyumbat aliran sungai tersebut.

"Penyebab banjir bandang karena adanya batu besar atau pohon-pohon tumbang yang menyumbat sungai dalam hutan, sehingga jika aliran terbendung, maka saat terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi berpotensi terjadi bencana," ungkapnya kepada Tribun Jatim Network, Minggu (21/11/2021).

Heru menceritakan pengalamannya saat melakukan mitigasi, ada sebuah batu besar yang jatuh di tengah aliran sungai, sehingga menyumbat dan membentuk seperti bendungan. Kondisinya, menyerupai danau kecil di tengah sungai hutan. Apalagi banyak sumber mata air yang muncul bersamaan musim penghujan.

"Seumpama adanya batu besar yang menyumbat aliran sungai di dalam hutan tidak ketahuan, maka berpotensi terjadi banjir bandang," ujarnya.

Dia menyebut, mitigasi bencana dilakukan bersama Perhutani, BPBD, TNI/Polri juga melibatkan masyarakat setempat dengan cara menyisir sungai dari bawah hingga ke atas masuk ke dalam hutan.

Baca juga: Batu Besar Longsor di Cangar-Pacet Mojokerto Tutupi Separuh Badan Jalan, BPBD Beri Imbauan

Di sisi lain, warga ikut berkantor lantaran mereka rutin pergi ke dalam hutan satu pekan sekali. Mereka selalu melaporkan kondisi sungai hutan apabila berpotensi terjadi bencana.

"Saat terjadi curah hujan tinggi di kawasan pegunungan, warga seringkali memberi informasi terakhir kondisi sungai hutan sebagai kewaspadaan bencana banjir bandang maupun tanah longsor," ucap Heru.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved