Muktamar NU

Mantan Ketua PBNU Pilih Dukung Said Aqil Ketimbang Gus Yahya di Muktamar NU ke-34, Ini Alasannya

Mantan Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung memilih mendukung KH Said Aqil Siradj dibanding Gus Yahya di Muktamar NU ke-34, ini alasannya.

Penulis: Aqwamit Torik | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Ketua PBNU periode 1999-2010 memilih berpihak pada KH Said Aqil Siradj pada Muktamar NU ke-34 di Lampung, Desember 2021. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Aqwamit Torik

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-34 di Lampung, Ketua PBNU periode 1999-2010, Dr Andi Jamaro Dulung mengungkapkan, sebaiknya Ketua Umum PBNU nantinya adalah sosok ulama yang sudah bergelar profesor, atau paling tidak adalah sosok bergelar doktor.

Sebab, menurutnya, Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi para ulama, cendekiawan dan intelektual muslim yang punya ribuan kader bergelar doktor.

Andi Jamaro Dulung juga meminta maaf karena pada Muktamar NU ke-34 lebih memilih untuk berpihak pada KH Said Aqil Siradj yang merupakan petahana, bukan kepada KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

"Tidak sampai hati jabatan Ketua Umum PBNU diberikan kepada orang yang secara akademik formal tidak teruji. Konon Gus Yahya tidak tamat S1," ungkap tokoh NU dari Sulawesi Selatan tersebut, Selasa (21/12/2021).

Andi Jamaro Dulung juga menjelaskan alasan dirinya tidak berpihak pada Gus Yahya.

Di antaranya adalah mengenai PBNU yang membawahi 274 perguruan tinggi NU, dan Ketua Umum PBNU ibarat seorang chairman (ketua) dari ratusan perguruan tinggi tersebut.

"Sangat ironis bila chairman dari 274 PTNU itu merupakan seorang yang tak tamat pendidikan S1," ungkapnya.

Selain itu, Andi Jamaro Dulung menilai jika Gus Yahya tidak pernah dikader di IPNU, PMII dan Ansor, sedangkan idealnya PBNU dipimpin oleh kader yang secara berjenjang berproses melalui kaderisasi di NU.

"Konon Gus Yahya hanya pernah menjadi aktivis HMI MPO," ungkapnya.

Baca juga: Pengurus dan Kiai Sepuh dari Jawa Timur Dipastikan Kompak Hadiri Muktamar NU ke-34 di Lampung

Andi Jamaro juga mencermati bahwa Gus Yahya tak ada indikasi untuk mengakomodir figur Sulawesi Selatan dalam konfigurasi kepemimpinan.

"Terbukti dengan komposisi calon AHWA. Tim Gus Yahya sama sekali tidak mencatumkan ulama asal Sulsel. Padahal Sulsel punya tokoh NU seperti Prof Dr KH Nasaruddin Umar dan Prof Dr KH Najamuddin," imbuh Andi Jamaro.

Hal lain yang membuat Andi Jamaro tak mendukung Gus Yahya adalah ia belum mengenal sosok Gus Yahya.

Padahal, Andi Jamaro mengaku sudah 35 tahun berkiprah di NU, tapi belakangan dalam 5 tahun terakhir Gus Yahya tiba-tiba muncul dan menjabat Katib Aam Syuriah PBNU.

"Sangat tidak logis apabila mendukung seseorang yang tidak dikenal," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved