Berita Kota Malang

'Jembatan Shiratal Mustaqim' di Kota Malang Sudah Bisa Dilewati, Khusus Roda Dua dan Pejalan Kaki

'Jembatan Shiratal Mustaqim' di Kota Malang kini sudah bisa dilewati, namun khusus untuk kendaraan roda dua dan pejalan kaki.

Tayang:
Penulis: Rifki Edgar | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com/Humas Pemkot Malang
Jembatan Balak Lowokdoro di Kota Malang atau yang disebut masyarakat lokal sebagai Jembatan Shiratal Mustaqim, sudah bisa dilewati oleh kendaraan dan pejalan kaki, Kamis (6/1/2022). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Rifki Edgar

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Setelah selesai direnovasi, Jembatan Balak di Lowokdoro, Kota Malang, kini mulai bisa dilewati oleh masyarakat umum.

Namun, jembatan yang menghubungkan antara wilayah Lowokdoro dan Bumiayu itu hanya diperbolehkan untuk dilewati kendaraan roda dua dan pejalan kaki.

Secara historis, Jembatan Balak Lowokdoro telah berdiri sejak masa kolonial. 

Dulunya, jembatan ini berfungsi sebagai jalur lori pengangkut tebu menuju Pabrik Gula Kebonagung

Bekas jalur lori tersebut juga terhubung dengan Pabrik Gula Krebet yang berada di Krebet, Bululawang.

Baca juga: Jembatan Glendeng Tuban Sudah Bisa Dilewati Sepeda Motor, Pengendara Mobil Masih Harus Bersabar

Jembatan yang membentang dari timur ke barat tersebut memiliki peran strategis sebagai jalur alternatif pengurai kemacetan di Jalan Gadang.

Sekaligus penghubung Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, dan Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun.

"Alhamdulillah, atas atensi dan arahan Bapak Wali Kota Malang, harapan masyarakat akan perbaikan Jembatan Lowokdoro bisa dituntaskan," ucap Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang, Diah Ayu Kusuma Dewi, Kamis (6/1/2022).

Diah Ayu Kusuma Dewi menjelaskan, perbaikan Jembatan Lowokdoro ini dilakukan, karena strukturnya terus mengalami penurunan akibat usia konstruksi. 

Hal itu menjadi salah satu program infrastruktur Pemkot Malang di tahun anggaran 2021.

Perbaikan yang dilakukan ini meliputi penggantian struktur yang keropos dengan rangka baja, penambahan plate bordes untuk pejalan kaki dan pengguna kendaraan roda dua. 

Total anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 951 juta dengan spesifikasi jembatan yang memiliki panjang 124 meter dan lebar 3,6 meter.

"Upaya perbaikan jembatan selain demi keamanan dan kenyamanan pengguna, juga diharapkan memiliki manfaat melestarikan sejarah panjang jembatan yang sering dijuluki masyarakat lokal sebagai Jembatan Shiratal Mustaqim," ungkap Diah.

Diah menambahkan, julukan tersebut diberikan oleh warga karena ketinggian dan lebar jembatan yang menghadirkan sensasi tersendiri bagi banyak orang yang melintasinya.

Apalagi jembatan ini membentang di atas aliran Sungai Brantas dan kerap kali berkabut ketika di malam hari atau ketika hujan turun.

"Tidak salah jika masyarakat sebut seperti itu. Saat ini demi keamanan penggunaan tetap dibatasi hanya pejalan kaki dan kendaraan roda dua, baik dari Jalan Kyai Parseh maupun Jalan Lowokdoro,” tandasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved