Berita Terkini
Ahli Sebut Varian Omicron Penyebarannya Cepat, Namun Kasus Kesakitan Rendah
Situasi pandemi Covid-19 saat ini tidak bisa disamakan dengan kondisi gelombang pandemi akibat varian Delta 2021 lalu. Lonjakan kasus yang terjadi
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Januar
Laporan wartawan Tribun Jatim Network, Sri Handi Lestari
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Situasi pandemi Covid-19 saat ini tidak bisa disamakan dengan kondisi gelombang pandemi akibat varian Delta 2021 lalu.
Lonjakan kasus yang terjadi akhir Januari 2022 hingga saat ini perlu disikapi secara lebih bijak dengan pemahaman yang lebih baik oleh masyarakat, terutama terkait karakteristik varian Omicron itu sendiri.
“Masyarakat Indonesia memiliki trauma pada momen gelombang COVID-19 varian Delta yang lalu. Perlu diketahui memang varian Omicron ini penyebarannya cepat, tapi kasus kesakitan maupun kematian akibat varian ini rendah,” kata Dr. Pandu Riono, MPH., Ph.D., Epidemiolog Universitas Indonesia, Minggu (6/2/2022).
Pandu menegaskan bahwa bagi pasien varian Omicron ini tidak banyak yang perlu masuk rumah sakit.
Baca juga: Pengelola Pantai Dalegan Gresik Harap Tidak Ada Penutupan Objek Wisata Imbas Naiknya Kasus Covid-19
“Ini yang perlu diketahui masyarakat.
Karakteristik lonjakan kasus sangat dipengaruhi karakteristik varian virusnya. Kedua karakteristik lonjakan kasus ini juga dipengaruhi oleh jumlah imunitas penduduk.
Karena itulah masyarakat sering salah persepsi dengan kondisi saat ini seperti kondisi di Juli-Agustus 2021 lalu, padahal sudah jauh berbeda,” jelas Pandu.
Sebagian besar penduduk Indonesia hingga Kamis (3/2/2022), sudah mendapatkan vaksinasi
yang cukup merata.
Catatan vaksinasi nasional, telah lebih dari 185 juta populasi penduduk Indonesia yang mendapat vaksinasi dosis pertama. Sedangkan 129 juta lebih penduduk mendapatkan dosis kedua, serta lebih dari 4,7 juta penduduk sudah mendapat dosis ketiga.
Vaksinasi masih memiliki peran yang besar bagi pencegahan kesakitan dan kematian akibat infeksi virus COVID-19 varian apa saja termasuk Omicron. Berkaca dari negara-negara lain yang lebih dahulu melewati varian Omicron seperti Afrika Selatan, Inggris, dan India, tingkat keparahan dan tingkat kematian akibat infeksi varian Omicron ini jauh berbeda dengan varian Delta.
“Saya bisa berbicara seperti ini karena melihat pengalaman dari negara lain yang sudah melalui gelombang Omicron. Karakternya cepat naik, cepat turun, dan pasien yang masuk rumah sakit jauh lebih rendah,” beber Pandu.
Pengalaman negara lain yang menurut Pandu Riono mirip dengan studi kasus di Indonesia adalah di India. Ia berharap lonjakan kasus di Indonesia akan mengikuti pola di India dimana turun dengan cepat dan tidak banyak berdampak pada pelayanan
rumah sakit maupun kematian.
Pemerintah dalam menangani lonjakan kasus kali ini sudah lebih siap. Kemenkes telah menyediakan pelayanan konsultasi kesehatan jarak jauh (telemedisin) secara gratis bagi pasien isolasi mandiri di rumah.
Begitu juga dengan obat-obatan yang diperlukan pasien Isoman juga sudah dipersiapkan dengan gratis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/lonjakan-kasus-yang-terjadi-akhir-januari-2022.jpg)