Sulawesi Utara
Selamat Datang di Superhub PDIP Jatim

Berita Jatim

30 Persen Emak-emak di Jatim Masih Galau Soal Figur Kandidat Pilpres 2024, Jadi Ceruk Potensial?

Suara kaum emak-emak di Jawa Timur untuk Pilpres 2024 nampaknya masih menjadi ceruk potensial untuk diperebutkan figur yang ingin maju kontestasi. 

TribunJatim.com/Yusron Naufal Putra
Peneliti Senior SSC, Ikhsan Rosidi saat memaparkan hasil survei terbaru terkait potensi suara emak-emak di Jawa Timur untuk Pilpres 2024 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Suara kaum emak-emak di Jawa Timur untuk Pilpres 2024 nampaknya masih menjadi ceruk potensial untuk diperebutkan figur yang ingin maju kontestasi. 

Sebab, hasil survei terbaru yang dikeluarkan lembaga Surabaya Survey Center (SSC) mendapati sebesar 29,9 persen kaum emak-emak masih belum menjawab siapa figur potensial untuk Pilpres 2024

Survei tersebut dilaksanakan pada tanggal 1-10 Februari 2022 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur dengan melibatkan 1070 responden. 

Survei itu memakai metode stratified multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 3 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Baca juga: Hasil Survei ARCI Kandidat Pilpres 2024 di Jawa Timur: Prabowo, Ganjar dan Muhaimin Masuk Tiga Besar

"Di survey elektabilitas kali ini, 29,9 persen memilih tidak tahu dan tidak menjawab,” ujar Direktur SSC Mochtar W Oetomo saat pemaparan hasil survei bertajuk riting politik emak-emak Jawa Timur, Rabu (23/2/2022). 

Temuan 29,9 persen responden emak-emak yang belum menjawab itu menjadi di antara hasil potret peta elektabilitas kandidat Pilpres 2024 seandainya kontestasi digelar saat ini. 

Dengan waktu kontestasi yang menyisakan dua tahun lagi. Temuan 29,9 persen emak-emak di Jawa Timur yang masih galau ini, potensial untuk disasar. Sebab, dalam politik kekinian suara kaum emak-emak tak bisa dipandang remeh. 

"Ini ceruk yang sangat potensial mengingat Pilpres masih di tahun 2024," jelas Mochtar. 

Baca juga: Ini Tiga Faktor Penyebab Preferensi Memilih Parpol Cenderung Menurun Berdasarkan Hasil Survei

Sementara terkait peta elektabilitas tokoh, dari hasil survei SSC mulai menampilkan persaingan yang ketat. Di posisi tiga besar kandidat capres yang menjadi favorit emak-emak bertengger sejumlah nama dengan angka elektabilitas yang tak terpaut jauh. 

Ketiganya adalah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (16,3 persen), Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (15,6 persen) dan Menteri Sosial Tri Rismaharini (10,8 persen). 

"Sementara, nama-nama lain yang muncul seperti Khofifah dengan 5 persen, Anies Baswedan dengan 4,9 persen, Agus Harimurti Yudhoyono dengan 4,8 persen, Sandiaga Uno ada 3 persen, dan Ridwan Kamil meraih 2,3 persen," ujarnya. 

Peneliti Senior SSC, Ikhsan Rosidi menjelaskan, pihaknya sengaja memotret suara kaum emak-emak di pertarungan politik jelang pesta demokrasi mendatang. 

Sebab menurutnya, saat ini politik feminisme menjadi salah satu trend isu yang menarik di ranah politik. 

Sehingga, penting bagi aktor politik untuk mengenal karakter, kebiasaan dan preferensi politik kaum perempuan yang didalamnya juga terdapat kaum emak-emak

Apalagi, dalam konteks Jawa Timur, pemilih perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pemilih pria. 

"Berdasar data DPB 2021, pemilih perempuan berjumlah sekitar 15,64 Juta, pemilih pria 15,16 juta jiwa," terangnya dalam forum yang berlangsung di Surabaya

Disisi lain, potensi partisipasi pemilih yang datang ke TPS lebih besar pemilih perempuan dibandingkan pemilih pria. Jika berkaca pada kontestasi Pilkada terakhir, persentase pemilih perempuan yang datang ke TPS berkisar 60,5 persen. 

"Pemilih laki-laki sebesar 53,8 persen," tambahnya. 

Dari fakta-fakta tersebut, Ikhsan mengungkapkan ceruk suara kaum perempuan dan emak-emak ini sangat potensial jadi rebutan. Pemilih emak-emak dapat menjadi segmen politik tersendiri yang penting jadi perhatian disamping segmentasi lain. 

"Perilaku politik emak-emak yang saat ini cenderung lebih independen, serta tidak selalu linier atau berbanding lurus dengan gejala-gejala politik umumnya, perlu disikapi oleh para politisi dengan cara yang berbeda pula," jelasnya. 

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved