Ini Tiga Faktor Penyebab Preferensi Memilih Parpol Cenderung Menurun Berdasarkan Hasil Survei
Tiga faktor yang jadi penyebab preferensi memilih parpol cenderung menurun berdasarkan hasil survei The Republic Institute.
Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti | Editor: Dwi Prastika
Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Lembaga The Republic Institute mendapati fakta jika preferensi masyarakat dalam memilih partai politik (parpol) mengalami tren penurunan, dibanding memilih aktor politik sebagai individu.
Dari hasil survei teranyar The Republic Institute, fakta tersebut setidaknya menunjukkan indikasi serius rapuhnya eksistensi partai politik.
Survei tersebut digelar dengan melibatkan 1.225 responden yang tersebar di 34 provinsi di seluruh wilayah di tanah air.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan multistage sampling dan purposive sampling dengan margin of errors sebesar 3,8 persen.
Menurut Peneliti Utama The Republic Institute, Sufyanto, ada tiga faktor yang sangat menonjol yang menyebabkan hal tersebut terjadi.
Faktor pertama adalah adanya perubahan media habbit masyarakat, yaitu dengan pengaruh digital. Hal ini berpengaruh pada cara masyarakat memperoleh informasi.
"Masyarakat lebih mudah mendapatkan akses informasi tentang aktor politik yang sedang berkontestasi sebagai caleg, dibanding dengan informasi institusi partai politik sebagai peserta pemilu," kata Sufyanto dalam rilis daring, Minggu (2/1/2022).
Faktor yang mempengaruhi pemilih tidak saja pada dominasi era digital. Sufyanto menyebut, faktor kedua yang menyebabkan fakta tersebut juga dipengaruhi oleh tingkat preferensi pilihan.
Pada survei itu didapati jika preferensi memilih berdasar ketokohan, kepribadian serta kualitas calon masih sangat tinggi dalam pertimbangan memilih pemimpin.
Baca juga: Hasil Survei, Kecenderungan Pemilih Parpol Menurun, Dominasi Aktor Politik Makin Menguat
Dalam survei itu di antaranya didapati ketokohan/kepribadian 24,3 persen, kualitas calon 18,4 persen, imbalan materi 16,4 persen, dan program yang ditawarkan 8,5 persen.
"Sehingga pemilih menyandarkan pilihannya kepada aktor individu, bukan lagi karena kedekatan ideologis dengan partai politik," tambahnya.
Di sisi lain, faktor ketiga yang ditemukan adalah pergeseran pilihan masyarakat dari pertimbangan pilihan karena kesamaan maupun kedekatan ideologi, bergeser ke pragmatisme. Hal ini disebabkan imbalan dalam proses kompetisi politik.
Dalam survei tersebut, para responden yang merupakan pemilih dalam Pemilu 2024 mendatang bila Pemilu dilangsungkan sekarang, maka yang berharap mendapat imbalan sebesar 71 persen. Kemudian tidak berharap imbalan 13,3 persen, dan yang belum tahu 15,7 persen.
Berbagai fakta yang ditemukan dalam survei tersebut setidaknya dapat menjadi perhatian untuk kalangan parpol. Sebab, dalam pandangan The Republic Institute memang terjadi pergeseran antara pilihan institusi parpol ke aktor politik dalam kontestasi.
Sufyanto menyarankan, agar nantinya ketika penyusunan bacaleg, partai politik harus mempertimbangkan betul terkait kekuatan aktor politik lokal di masing-masing dapil.