Berita Surabaya
Sempat Dapat Penolakan, Kampung di Surabaya Ini Tetap Konsisten Tegur Perokok
Sejak tahun 2010 atau lebih dari satu dekade, Kampung Bulaksari 7, RT 7 RW 6, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, menciptakan kaw
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sejak tahun 2010 atau lebih dari satu dekade, Kampung Bulaksari 7, RT 7 RW 6, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, menciptakan kawasan tanpa rokok demi lingkungan yang sehat dan asri.
Kampung yang dihuni 67 KK tersebut menegur secara humanis apabila ada pengendara, penjual, ataupun orang yang melintas di wilayah tersebut tanpa pandang bulu. Maklum, akses kampung itu memiliki jalan tembusan yang menghubungkan area sekitar.
Ketua RT setempat Heru Sugijanto, menerangkan, para warga, khususnya dari kaum ibu ibu benci sekali terhadap sama asap rokok maupun perokok berat.
"Rokok ini bahaya sekali. Mulai sakit pada organ pernafasan dan lain sebagainya, Bahkan banyak orang yang berakibat meninggal dunia," ujarnya, Senin (28/2/2022).
Baca juga: Kerap Ketiduran saat Merokok, Kakek Lumpuh Tinggal Sebatang Kara di Ponorogo Terbakar di Dalam Rumah
Menurutnya, menginisiasi gerakan sehat ini tentu tidaklah mudah. Sempat ada penolakan usai menggelar deklarasi pada Desember 2010. Sehingga, hanya 30 persen yang memahami dan menerima aturan itu. Namun, bukan berarti membuat Heru patah arang.
"Kami terus sosialisasi kepada warga, kartar, PKK. Dulu banyak yang lewat baik penjual atau warga, kena tegur. Karena lama kelamaan sering masuk sini dan terus sosialisasi, akhirnya sadar lalu dimatikan rokoknya," jelasnya.
"Kami juga aktif mengikuti lomba lomba. Terutama berkaitan dengan kesehatan. Seperti Kampung Sehat, Green and Clean, Kampung Bebas Narkoba. Bahkan juara ditingkat Kota Surabaya sampai se Jatim," imbuhnya.
Disamping itu, kata dia, tak lupa kegiatan rutinitas aktif dilakoni seperti bumantik, timbang balita, milah sampah kering jalan, pertemuan rutin bapak bapak dan ibu ibu terkait keluhan atau acara acara yang akan diikuti.
Baca juga: Begini Cara Warga Kampung Lawang Seketeng di Surabaya Olah Limbah Kain Jadi Beragam Produk
"Kampung ini pernah dikunjungi dari luar daerah. Yaitu DKI Jakarta, Makassar, bahkan sampai DPRD Aceh. Bahkan dari Unair, ITS, UPN, pernah kkn 3 sampai 4 hari. Kami selaku pengurus aktif menyampaikan supaya warga bisa memahami apa yang kami lakukan," tuturnya.
Kedepan, lanjut dia, pihaknya akan membangun sejumlah sarana prasarana agar warga setempat lebih nyaman. Seperti Fasilitas Gym, hingga mempercantik tampilan kampung.
"Kami minta bantuan pembinaan dari Pemkot Surabaya untuk mengembangkan kampung ini. Kami terus mengingatkan supaya terbiasa. Kami kembalikan kepada masing masing siapa yang mau sehat. Kalau bukan sekarang, kapan lagi," tandasnya